Area X : Hymne Angkasa Raya

Eliza V. Handayani…..mewakili generasi terbaru yang akan dimiliki abad 21, seperti Fansuri, terpelajar, futuristic, indah, dan kreatif. —Taufiq IsmailArea X

Buku ini merupakan buku lama yang terbit pertama kali tahun 2003. Sebelum terbit dalam bentuk novel, Area X adalah naskah film yang menjuarai Lomba Penulisan Film tahun 1999. Eliza saat menulis buku ini menggunakan rujukan 33 buku, jurnal dan bulletin. Eliza menggunaka rujukan tersebut untuk memperkuat sains, teknologi dan keilmiahan yang terkandung dalam novelnya. Buku ini berbeda dengan novel fiksi yang marak saat ini. Saya lebih suka menyebutnya sebagai novel fiksi ilmiah karena tidak terlepas dari beberapa penggunaan istilah ilmiah yang ada. Secara tidak langsung ketika kita membaca novelnya, kita bisa mempelajari pula astronomi, astrologi, astrofisika, astrobiologi, sains, ufologi dan teknologi modern yang dipaparkan dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Novel ini tidak hanya berkisah pada seputar ilmiah saja. Penulis juga menyuguhkan cerita persahabatan dan percintaan antara Yudho, Elly, dan Rendy.

Yudho dan Rocky adalah mahasiswa pascasarjana. Pada tahun 2015, mereka menemukan sebuah rahasia tak terduga di Area X (read : area sepuluh), yang merupakan pusat penelitian IPTEK mutakhir di Indonesia 2015 yang berjumlah 10 area. Yudho dan Rocky mencari tahu rahasia apa yang dilakukan di Area X. Rasa penasaran mereka yang belum tuntas  menghasilkan kematian Rocky. Elly yang merupaka seorang mahasiswa astrofisika menemukan keganjalan dalam kecelakaan Tyas. Dia mengaku melihat piring terbang di dekat Area X. Rasa penasaran Elly mempertemukan dia dengan Yudho di Hadeslan, kota satelit yang mengelilingi Jakarta. Akankah mereka bisa menyingkap rahasia tersembunyi di Area X? Dan siapakah Rendy yang muncul di tengah – tengah kedekatan antara Elly dan Yudho? Temukan jawabannya dalam novel ini.

“Berpeganglah selalu pada diri sendiri. Tapi akan selalu ada, meskipun sedikit,meskipun tiada kau rasakan,orang-orang yang selalu berpikir sepertimu,yang bisa memahamimu,dan bisa menyayangimu. Tak seorang pun benar-benar sebatang kara.  Kita tidak pernah benar-benar sendirian……”

Iklan

K – Only Human

Lagu ini pertama kali saya dengar dari dorama Jepang “1 Litre of Tears”. Dorama ini sangat terkenal karena diambil dari kisah nyata. Jalan ceritanya pun tidak luput membuat saya menghabiskan beberapa lembar tisu. Ditambah dengan lagu ini sebagai ost-nya menjadi pelengkap untuk menyayat hati saya. Bagi yang ingin dengar lagu melow dan sedih, lagu ini rekomendasi sekali.

Travelers’ Tale : Belok Kanan, Barcelona!

1493217Ini dia novel yang terbit di tahun 2007 mengambil tema tentang traveler yang berbeda dengan buku traveler kebanyakan. Penyusunan cerita dalam buku ini sungguh kece. Awal mulanya, saya mengira bahwa buku ini seperti buku traveler yang dominan hanya menceritakan perjalanan ke berbagai negara seperti dokumenter pribadi. In fact, buku ini dikemas dalam sebuah cerita fiksi. Dan saya heran ketika melihat nama penulisnya. Tertulis bukanlah penulis tunggal. Tetapi terdapat 4 penulis. Kuartet. Yap! Bagaimana mereka bisa menyusun plot dengan menggunakan 4 penulis ya? Apakah tidak terjadi “tabrakan” dalam penentuan alur, klimaks, tokoh bahkan ending ceritanya? Whatever, itu urusan mereka. Yang jelas, saya sungguh tergelitik ketika membacanya. Dari satu bab berpindah ke bab lain pasti sudut pandang cerita berubah dari segi tokoh yang mana. Sesuai dengan penulis-penulisnya. Di dalam isi novel ini terdapat 4 tokoh utama.

Ditulis oleh 4 penulis yang 2 diantaranya tidak asing di telinga saya. Mereka adalah Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita. Adhitya dan Ninit sudah saya kenal (mereka tidak kenal saya -_-) dari novel-novel mereka sebelumnnya seperti jomblo dan test pack. Di dalam cerita mereka mengambil peran dari masing-masing tokoh novel. Seperti penulisnya, tokohnya pun terdapat 4, yaitu Yusuf (Ucup), Farah, Retno dan Francis. Tetapi saya tidak berani menebak penulis mana yang memegang tokoh yang mana. Saya hanya cukup yakin bahwa Adhitya memegang tokoh Ucup.

Keempat tokoh tersebut adalah sekawanan sejak mereka SMP hingga SMA. Seperti kebanyakan cerita dan orang-orang katakan bahwa masa SMA penuh dengan masa kisah cinta. Begitu pula dengan mereka. Hanya saja kisah cinta diantara mereka ini segiempat dan tak kunjung terselesaikan dengan ucapan. Saya bisa membayangkan bahwa kisah percintaan mereka “lugu”, tidak seperti kisah anak-anak SMA sekarang ini. Kenapa saya katakan segiempat? Kisah cinta mereka hanya berkutat pada mereka sendiri. Francis yang sudah ditolak dua kali oleh Retno. Farah yang memendam rasa pada Francis. Dan Ucup yang selalu menyembunyikan perasaan pada Farah yang notabene tahu bagaimana persaan Farah yang sebenarnya. Perjalanan kisah cinta mereka yang tidak terselesaikan hanya larut terbawa waktu.

Hingga pada akhirnya, di saat mereka berempat tersebar di berbagai negara yang berbeda, mendapat surat undangan pernikahan dari Francis yang akan menikah di Barcelona. Demi persahabatan dan pertanyaan yang belum terjawab, mereka akan melakukan reuni di Barcelona. Semua perjalanan dari berbagai negara untuk bertemu di satu titik akan mereka lakukan dengan budget yang pas ala backpacker. Akankah jawaban yang mereka inginkan akan mereka dapatkan atau malah sebaliknya? Silahkan untuk mencari tahu sendiri.

Keempat penulis ini saya acungi jempol. Fiksi yang mereka hadirkan sangat pas dengan tujuan yang mereka ingin tunjukkan kepada pembaca mengenai sebuah perjalanan seperti traveler ala backpacker. Cerita yang disuguhkan menjadi pelengkap dan pemanis layaknya kopi pahit dicampur dengan gula. Ketika membaca, saya bisa membayangkan bagaimana keindahan negara-negara di Eropa yang dibalut dengan cerita kehidupan mereka.

Tetapi, satu hal yang sedikit membuat saya kurang pas. Pada bagian penokohan 4 tokoh. Dalam sebuah cerita memang perlu ada satu tokoh utama. Dimana-mana tokoh utama hanya satu. Tapi tidak masalah bila tokoh utama ada 4. Jadi melihat dari 4 segi pandangan. Akan tetapi hal itu tidak saya pahami dalam novel ini. Jika memang tujuannya adalah 4 tokoh maka peran dari keempatnya harus sama bobotnya. Dalam novel ini cenderung Yusuf yang ditonjolkan. Dan 3 lainnya adalah pelengkap.

Selain jalan ceritanya yang bagus, kita disuguhi dengan beberapa gambar dari tempat-tempat yang mereka ceritakan. Menjadi poin pelengkap saat bercerita menampilkan gambar. Well, novel ini saya rekomendasikan bagi kalian yang mencari bacaan tentang backpacker yang dilengkapi kisah fiksi. Happy for reading 🙂 !