The Fault In Our Stars : the sweet story of imperfect

the fault in our stars

“Pain demands to be felt” (John Green)

Kalimat yang memaksa saya untuk setuju terhadap pernyataannya. Seperti rasa sakit yang memaksa juga terhadap rasa. Saya memberikan 4,5 stars from 5 stars untuk film ini. Dan saya mengakui keindahan ceritanya dalam menonton film tersebut. Selama ini, dalam kamus perfilman saya, kisah drama romance yang memegang rating teratas adalah The Perks of Being a Wallflower, dilanjutkan A Walk To Remember. Namun, setelah menonton film ini, peringkat teratas dalam kamus saya berubah menjadi film ini.

Ketika kita melihat poster film ini, kita pasti menebak “Ah, film tentang orang yang sakit”. Well, tidak salah. Karena pada posternya, Hazel sebagai tokoh utama film menggunakan bantuan oksigen mini yang selalu ia bawa kemana-pun ia pergi. Dan pastinya kalian akan mulai menebak-nebak bahwa cerita film ini akan berakhir dengan kematian terhadap tokoh utamanya.

Film yang diadaptasi dari novel terlaris karya John Green membuat saya penasaran dengan karya novel John yang lain. Well, lewat film ini saya jadi kenal dengan penulis asing lainnya selain J.K Rowling, Nicholas Sparks, Paulo Coelho, Haruki Murakami, dll. Walaupun saya belum membaca novelnya pada saat menonton film ini, it’s okay, alur cerita yang disajikan oleh sutradaranya, Josh Boone, terkemas secara apik. Tidak muluk-muluk. Tidak berlebihan. Tidak kurang. Sangat pas sekali. Selain karena arahan sutradara, tokoh-tokoh yang memerankan 2 peran penting yaitu Hazel & Augustus sangat cocok sekali untuk Shailene Woodley dan Ansel Elgort. Melalui film ini, saya menyukai 2 aktor tersebut dan menunggu film mereka selanjutnya.

Kenapa saya mengatakan bahwa cerita yang disajikan oleh Josh Boone begitu pas? Saya yakin bahwa ketika saya nantinya membaca novelnya pasti akan merasa hal yang sama ketika menonton filmnya. Karena tidak mudah seorang sutradara mengadaptasi sebuah film dari karya buku yang laris. Dari yang tebalnya berhalaman-halaman harus disampaikan ke dalam layar dalam waktu kurang dari 2 jam. Ketika suatu film yang merupakan adaptasi dari buku kemudian sukses untuk ditampilkan di layar, hal tersebut sungguh “Wow!”. Bisa dibayangkan bagaimana isi dari novelnya jika filmnya saja begitu “memikat”.

Kisah cinta yang diramu Josh Boone bukanlah kisah cinta yang perlu “dikasihani” melihat tokoh pemeran utamanya mengidap penyakit kanker kelenjar tiroid. Penyakit tersebut telah membuat Hazel harus selalu menggunakan oksigen mini kemanapun ia pergi akibat dari komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakitnya terhadap paru-parunya. Bertemu dengan Ausgustus di sebuah perkumpulan orang-orang yang memiliki kondisi sama dengan Hazel, tetapi berbeda-beda kasus, membawa petualangan Hazel menjadi seru dan berwarna. Ausgustus yang dinyatakan sudah bersih dari kankernya merupakan tipikal cowok tidak pelu berpikir terlalu lama bila ingin melakukan sesuatu, hangat, periang dan  menginginkan banyak orang bisa mengenalnya ketika dia nantinya mati. Hal yang membuat saya sedikit kaget melihat ketampanan Ausgustus bahwa kakinya tidaklah sempurna. Pengaruh dari kanker yang dideritanya dan untuk menghilangkan kanker 85% harus dibuat pilihan terhadap kakinya.

Kedekatan antara Hazel dan Ausgustus berlanjut hingga mereka pergi ke Amsterdam untuk mencari jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaan kepada Van Houten. Hingga mereka mengetahui kenyataan bahwa waktu mereka untuk bersama-sama tidak akan berlangsung lama. Sepulang dari Amsterdam inilah saya mulai merasakan kesedihan. Bukan karena salah satu dari tokohnya akan mati. Tetapi kesedihan bahwa saya yang tidak mengidap penyakit apapun kenapa tidak bisa memiliki pemikiran tentang hidup seperti mereka.

edit-1

You don’t get to choose if you get hurt in this world, but you do have some say in who hurts you.”  

– John Green –

Apa yang dikatakan Hazel kepada Ausgustus sangat tepat. Di dunia ini kita tidak memerlukan banyak orang untuk mengenang kita jika tidak ada. Cukup orang yang kita cintai dan mencintai kita bisa mengenang kita. Josh Boone meramu cinta antara Hazel dan Ausgustus tidak terlalu “mewek”, tetapi meramunya dalam kisah manis dan sesuai apa yang bisa dikatakan oleh realitas.

Pelengkap dari sebuah film adalah soundtracknya. Dari awal hingga film ini berakhir, saya menikmati musik dan lagu yang mengiringi film tersebut. Apalagi ketika saya tahu bahwa yang mengisi soundtracknya adalah Ed Sheeran. Pantas saja saya tidak asing dengan suaranya yang khas. Mata dan telinga kita sungguh dimanjakan dengan adegan-adegan yang indah dan musik yang cantik sebagai pelengkapnya.

Iklan

Diterbitkan oleh

devilove

devi setyowati is my full name // a midwife // interested with the words world // to be a simple thinker // chocolate addict // cappucino addict // "i am not the best but i am trying my best"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s