Novel 5 Centimeter per Second : Rasa Sakit Dari Kehilangan

5 centimeter per second novel

Setelah beberapa tahun yang lalu menonton movie-nya hingga lebih dari 3 kali, akhirnya kemarin saya selesai membaca versi novelnya. Novel yang ditulis langsung oleh Makoto Shinkai, selaku Director dan Screenwriter dari movie-nya, memiliki esensi yang berbeda dari menonton filmnya. Awalnya saya sempat ragu jika ekspektasi saya yang berharap harus lebih bagus akan dikecewakan karena saya sudah ‘jatuh cinta’ dengan animenya. Saya pernah mengulas film 5 centimeter per second sebelumnya menurut sudut pandang saya sebagai orang awam terhadap dunia anime. Kenyataannya, setelah saya menyelesaikan novel tersebut hanya dalam 2 hari, lalu menutupnya di akhir cerita, saya sejenak terdiam. Diam saya bukan karena kecewa. Diam saya karena, kenapa Makoto begitu “kejam” membuat saya mengingat kembali rasa kehilangan.

Sejauh yang saya tahu dari karya-karya Makoto memang membuat “galau” bagi penikmatnya. Dia memang berkata dalam novelnya bahwa karya-karyanya, pada dasarnya, memberikan arti apa itu “kehilangan“. Baginya, kehilangan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dari kehidupan siapa saja. Kehilangan adalah sesuatu yang harus dilalui dengan banyak cara. Jujur, saya terlalu benci jika membahas tentang kehilangan. Di satu sisi saya sadar bahwa ketika kehilangan itu ada, maka akan ada ganti yang muncul walau terkadang belum tentu sesuai dengan yang hilang. Apa yang disampaikan Makoto, dari sudut pandang saya tentunya, menyampaikan kehilangan dalam arti yang dalam. Dimana kehilangan sesuatu di awal akan berdampak pada perjalanan hidup kemudian.

Hadirnya novel ini memang sangat spesial. Pada filmnya lebih banyak menampilkan visual yang sangat menyayat hati. Sedangkan novel hadir sebagai pelengkap untuk lebih banyak menjelaskan secara detail apa yang dirasakan Takaki, Akari dan Kanae. Di dalam novel tetap menampilkan 3 bab utama seperti di dalam film : Bunga Sakura, Kosmonot dan 5 cm per detik. Bagian cerita dari bab 5 cm per detik lebih banyak dibandingkan 2 bab awalnya. Hal itu berbeda dengan filmnya dimana bagian 5 cm per detik sangat singkat.

Bagian bunga sakura menceritakan dari sudut pandang Takaki ketika SD bersama dengan Akari yang berlanjut dengan perpisahan pertama, lalu pertemuan dengan Akari ketika duduk di bangku SMP yang membutuhkan perjuangan dan diakhiri dengan perpisahan indah namun terasa sangat pahit di dalam. Ketika saya menyelesaikan bab pertama, sesaat saya menghela nafas panjang sebelum saya melanjutkan ke bab selanjutnya.

Bagian bab kedua dengan judul kosmonot menceritakan dari sudut pandang Kanae. Di dalam novel ini saya lebih bisa mengerti dengan baik siapa dan bagaimana perasaan Kanae. Hal itu awalnya tidak saya dapatkan secara intens di filmnya. Saya hanya mengerti sekilas saja apa yang dirasakan Kanae dalam film. Makoto sangat lihai menampilkan rasa sakit “yang lain” dari orang berbeda, maksudnya bukan tokoh utamanya. Setelah di bab awal kita cukup merasakan rasa kehilangan dari Takaki dan Akari, maka kita merasakan lagi rasa kehilangan dari Kanae.

Bab terakhir yaitu 5 cm per detik menjadi bagian yang lebih memuaskan untuk menutup cerita novel ini. Makoto mengambil cerita dari sudut pandangnya. Kita akan tahu bagaimana lengkapnya kehidupan yang dijalani Takaki setelah lulus SMA, memasuki dunia perkuliahan dan kerja di Kota Tokyo. Perjalanan kisah berpacarannya dimulai dalam bab ini. Total ada 3 perempuan yang menjadi pacarnya selama kuliah dan kerja. Dan kesemuanya berakhir dengan perpisahan yang cukup menyakitkan bagi Takaki. Walaupun sebenarnya, pacar ketiganya yaitu Risa Mizuno menjadi harapan saya untuk dapat menjadi yang terakhir bagi Takaki. Seperti yang diungkapkan Makoto, cinta pertama adalah kutukan yang akan menjadi pola kita berhubungan dengan orang lain seterusnya. Kegagalan Takaki dalam menjalin hubungan memang tidak terlepas dari apa yang ia rasakan terhadap Akari. Walaupun Akari pernah berkata pada Takaki, “Aku yakin kau akan baik-baik saja Takaki-kun.”

Ada bagian percakapan antara Takaki dan Mizuno yang saya sukai. Percakapan ini tidak ringan dan tidak berat, cukup menggelitik saya. Dan pada akhirnya Makoto menuliskan beberapa kalimat yang membuat saya sendiri berpikir mengenai diri saya sendiri.

Ia selalu bersusah payah mencari tempat dimana ia diterima. Bahkan sampai sekarang ia merasa ia belum menemukannya. Ia merasa ia tidak menggapai apa-apa. Itu tidak terasa seperti ia sedang mencari ‘diriku yang sesungguhnya’. Terasa seperti ia sudah setengah jalan melewati sesuatu. Namun dimanakah yang ia tuju?

Kenapa saya cukup tergelitik pada bagian kalimat tersebut? Secara tidak langsung pula Makoto seperti membicarakan tentang saya. Pada bagian hal ini, saya merasa seperti Takaki. Tetapi saya tidak ingin kisah yang lainnya pula sama.

Apa yang ingin disampaikan Makoto secara garis besarnya dapat saya tangkap. Makoto tidak mengajak kita “galau” dengan karyanya. Tetapi, dia ingin kita mempelajari bahwa selama manusia hidup akan mengalami terluka. Dan bagaimana cara kita bisa mengatasi luka kita masing-masing agar tidak terbawa pada hubungan selanjutnya. Antara film dan novel memiliki kekuatan masing-masing dalam bercerita. Pada film diperkuat dengan visual dan soundtrack lagu yang padu padan. Dalam novel memiliki kekuatan dalam menjabarkan secara runtun melalui kalimat yang mudah dipahami. Novel ini terkesan jauh dari cacat. Saya merasa puas setelah membacanya walaupun saya merasakan perih di dalam hati. Menutup novel ini, saya pun bergumam dalam batin. Takaki pasti akan baik-baik saja.

Iklan

A Lot Like Love : “Don’t ruin it!”

a lot like love“there’s nothing better than a great romance to ruin a perfectly good friendship”

 Saya senang melihat review-review dari film lama. Tak terkecuali film yang satu ini. Film yang tayang perdana pada tahun 2005 (wow!! ketika saya masih SMP). Karena keahlian saya menyelam di dunia Google dan secara tidak terduga tahu tentang film ini, maka tak perlu menunggu waktu lama. Saya langsung mencari film ini dan menontonnya. Inti dari film ‘a lot like love’ ada pada tag kalimat diatas. Kita juga bisa menebak bagaimana ending dari film ini yang secara jelas pasti happy ending. Tetapi yang membuat saya menyukai film ini setelah menontonnya adalah cara pengemasannya, yang menurut saya dikemas dengan sangat sederhana dan alami. Colin Patrick Lynch menulis ceritanya tanpa dibuat-buat.

Oliver dan Emily adalah dua tokoh yang menjadi inti cerita ini. Di awal film, dari penampilan pertama mereka muncul sudah bisa kita nilai bagaimana karakter dari Oliver dan Emily. Pada dasarnya karakter mereka sangat bertolak belakang. But, love didn’t look anything. Pada saat saya menonton, saya sempat bergumam, “kok bisa ya Oliver tertarik dengan cewek seperti itu?” Pertemuan pertama mereka pun tidak bisa dikatakan dengan pertemuan yang manis. Tetapi pertemuan yang crazy banget. Emily tipikal orang urakan, sedangkan Oliver tipikal yang kalem banget. Setelah pertemuan tersebut, ikatan persahabatan diantara mereka terbentuk. Hubungan persahabatan mereka bikin saya ‘geregetan’ tiap kali nonton. Gimana gak, mereka saling menyadari kalo saling suka. Oliver ingin hubungan yang lebih dari sekedar teman, but Emily hanya dengan kalimat “don’t ruin it!” yang ia ucapkan cukup memberi gambaran bagaimana hubungan yang semestinya diantara mereka. Oliver paham dan mengikuti alur permainan agar tidak merusak suasana di antara mereka.

Waktu menjadi pembuktian bagi mereka. Tidak hanya dalam hitungan setahun atau dua tahun saja waktu menyadarkan mereka. Tetapi lebih dari 5 tahun. Dan dengan permainan waktu serta jalan cerita yang dikemas membuat ‘chemistry’ dari film ini hidup dan asyik untuk diikuti. Tak sekedar itu, soundtrack dari film ini pas dan keren banget. Ada 3 lagu yang saya suka dari keseluruhan soundtracknya, ‘Brighter than sunshine‘ by Aqualung, ‘if u leave me now‘ by Chicago dan ‘Look what u’ve done‘ by Jet.

Girl In The Sunny Place : The Secret Life of Mao

The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_007034825 The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_006547999

Film Jepang menjadi daya tarik tersendiri bagi saya sebagai seorang penikmatnya. Apalagi dengan genre romantis. Di antara film Jepang dan Korea untuk genre romantis, saya masih cenderung lebih menyukai alur cerita film Jepang yang saya nilai “lugu”. Film Jepang memang berani mengekspos hal-hal yang tidak wajar, tetapi seringkali terlihat “lugu”.

Sudah banyak film Jepang yang saya ikuti. Saya lebih memilih menonton filmnya daripada doramanya. Entahlah dikarenakan apa, saya sendiri menganggapnya karena suka saja. Seperti film-film yang lainnya, saya tahu tentang film Girl In The Sunny Place melihat resensi dari asianwiki.com. Salah satu tokoh utamanya adalah Juri Ueno, yang saya ketahui dari dorama hits Nodame Cantabile. Ketika saya mulai melihat trailer dari film ini, saya langsung suka karena banyak rahasia yang menjadi tagline-nya. Rasa penasaran harus saya tebus dengan menonton filmnya.

edit2

Judul lain dari film ini adalah Her Sunny Side. Film ini adaptasi dari novel “Hidamari no Kanojo” karya Osamu Koshigaya yang diterbitkan pada tahun 2011. Film ini berkisah tentang Kosuke Okuda (Jun Matsumoto) dan Mao Watarai (Juri Ueno). Mereka adalah sepasang sahabat ketika SMP. Hal ini dimulai ketika Mao menjadi siswa baru di sekolah Kosuke dan menjadi sasaran bully dikarenakan Mao tidak mampu dalam segala hal dan dianggap bodoh. Seperti cerita romantis Jepang ketika ada salah satu tokohnya di-bully maka ada tokoh lain yang melindungi. Kosuke-lah yang menjadi tokoh pelindung bagi Mao. Persahabatan terjalin di antara mereka hingga rasa suka dan cinta. Namun, kisah asmara saat SMP harus disudahi ketika Kosuke harus pindah ke kota lain mengikuti orangtuanya. Komunikasi di antara mereka hilang dengan begitu saja.

Cerita dimulai ketika Kosuke sudah dewasa dan bekerja di salah satu perusahaan periklanan. Tampaknya masa remaja dan dewasa Kosuke dihabiskan dengan membosankan tanpa adanya bumbu-bumbu percintaan. Hal tersebut tampak ketika adik Kosuke selalu mengejek kakaknya. Berbeda dengan kakaknya, adiknya tampak seperti orang playboy. Mungkin Kosuke masih menyimpan harapan untuk bertemu dengan teman masa SMP-nya.

Kosuke dan rekannya mendapatkan proyek kerjasama dengan perusahaan lain dalam membuat iklan untuk memperkenalkan produk kliennya. Ketika Kosuke mendatangi tempat mitranya, disanalah dia tidak menyangka bertemu dengan Mao yang tampak berbeda dan cantik. Dari pertemuan itu, komunikasi di antara mereka berlanjut. Kisah cinta keduanya pun mulai berkembang lagi. Hingga pada akhirnya Kosuke memberanikan diri untuk melamar Mao. Di saat pertemuan dengan orangtua Mao, Kosuke akhirnya mengetahui kebenaran mengenai isu yang pernah beredar ketika SMP mengenai siapa sebenarnya Mao dari ayah Mao. Kosuke tidak mempermasalahkan kenyataan tersebut dan dia mencintai apa adanya Mao.

The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_003900848The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_002652477

Semuanya tidak berhenti disini saja. Setelah pernikahan dan mereka berdua mulai tinggal bersama, ada beberapa kejadian yang mulai menyerang Mao. Disini awalnya saya menebak bahwa Mao mengidap suatu penyakit tertentu, seperti cerita drama-drama Jepang dan Korea pada umumnya. Namun, tebakan itu tidak tepat. Karena ada sebuah kejadian yang berkaitan dengan masa kecil Kosuke ketika dia bermain di pantai dan menolong seekor kucing kecil. Kejadian selanjutnya ketika anak tetangga mereka yang hampir jatuh dari teras yang tinggi dan Mao menolongnya dari ketinggian yang tidak lazim untuk selamat. Sedikit demi sedikit Kosuke mulai mencari tahu siapa sebenarnya Mao. Ketika semua hampir terungkap, tiba-tiba Mao menghilang. Semua orang yang berhubungan dengan Mao tidak mengenal siapa Mao. Kosuke tampak semakin bingung. Satu-satunya tempat yang disukai oleh Mao menjadi tujuan akhir Kosuke mencari Mao dan menjadi jawaban penting bagi Kosuke.

Film ini dibalut dengan sangat perlahan dan tidak buru-buru untuk segera mengakhiri tanpa adanya taste. Diawal cerita hingga klimaksnya kita masih sulit mencari makna dari ceritanya. Saat semua rahasia mulai terkuak yang masih berhubungan dengan masa kecil Kosuke, di saat itulah kita paham apa yang ingin disampaikan film ini. Sebuah permintaan dan doa untuk bisa bertemu, mengucapkan terima kasih dan membalas kasih sayang kepada seseorang yang rela terluka demi dirinya menjadi inti dari ceritanya.

Sinematografi dari film ini saya acungi jempol. Sangat keren. Seperti judulnya yang terdapat kata ‘sunny‘, maka film ini diambil dengan latar cahaya dari matahari. Sangat teduh dan menyilaukan secara bersamaan. Setting tempat yang digunakan juga indah. Menambah film ini menjadi indah. Soundtrack yang digunakan dalam film ini adalah lagu kesukaan Mao. Sekali mendengarnya saja kita mudah jatuh cinta. Begitu dengan saya saat pertama mendengar lagu yang menjadi soundtrack-nya. Lagunya membuat kita ingin menggerakkan tubuh seperti Mao. Wouldn’t it be nice adalah judul lagunya yang dikeluarkan pada tahun 1966 oleh band legendaris Beach Boys (sama halnya seperti The Beatles). Lagu ini menjadi list wajib dalam handphone saya setelah menonton filmnya.

The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_006682851

Wouldn’t it be nice if we werw older? Then we wouldn’t have to wait so long. And wouldn’t it be nice to live together. In the kind of world where we belong