The Man From Nowhere : Nothing to lose, nothing to compromise

the man from nowhere

Pada dasarnya saya bukanlah penggemar film action. Saya cenderung menyukai film dengan genre romantis dan drama. Untuk pilihan action, biasanya saya melihat dulu bagaimana storyline, pemainnya, trailer dan lebih penting adalah review dari orang-orang yang telah menonton. Terkadang untuk pemain yang sudah saya tahu dan di film sebelumnya yang dimainkan bagus, maka saya pasti akan menonton filmnya yang lain. Seperti film ini, jujur, yang mendorong saya menonton film action ini karena Won Bin oppa. Akting di film-film sebelumnya saya akui dengan dua jempil saya. Saya pun tidak heran bila dia selalu pemilih untuk berakting di film apa saja.

Judul lain film ini adalah Ahjeosshi, diproduksi pada tahun 2010. Total, saya sudah 3 kali menonton film ini. Saya acungi untuk storyline yang disusun oleh Jeong Beom Lee sebagai seorang Writer sekaligus Director-nya. Bukan hanya action saja yang dapat ditonjolkan, tetapi dari segi cerita dramanya juga ditonjolkan dengan sangat sinergis bersamaan actionnya.

Berkisah tentang sisi kelam kehidupan tokoh utamanya, Cha Tae Sik (Won Bin). di pembukaan film kita diajak untuk bermain tebak-tebakan kenapa tokoh utamanya sangat gelap. Mulai dari penampilan yang jauh dari kesan kata “keren” dan minimnya dialog yang diucapkan membuat kita tidak bisa beranjak untuk terus mengikuti alur cerita. Penampilan Won Bin oppa di film ini sarat dengan ekspresi wajah sebagai bahasa komunikasinya untuk berakting. Berbanding terbalik dengan tokoh utama yang lainnya yaitu Jung So Mi (Kim Sae Ron). Dia merupakan tokoh penting sebagai anak kecil yang menjadi tetangga Tae Sik. Sering banyak bicara, entah apa yang diucapkannya akan didengar oleh Tae Sik atau tidak, dia tidak peduli. Tidak mengenal rasa takut untuk berada di dekat Tae Sik walaupun dia tahu bahwa Tae Sik merupakan sosok misterius.

Cerita film ini mulai menegang ketika So Mi menjadi korban penculikan karena ulah ibunya dan Tae Sik yang mengetahui hal tersebut tidak bisa berdiam diri. Di bagian ini saya mulai bisa bergumam dalam hati dengan kata “keren” yang saya tujukan untuk Tae Sik. Bermetamorfosa menjadi siapa sebenarnya Tae Sik dan apa yang membuat dia menjadi seperti ini dikisahkan secara flashback. Adegan action akan mulai banyak terlihat. Adegan sadis-pun tidak terlepas dari jalan cerita pada bagian klimaksnya. Saya sempat ngeri juga ketika darah dan organ-organ tubuh menjadi hal yang dominan. Tapi, itulah bagian esensinya yang ingin ditunjukkan bagaimana kejamnya dunia human trafficking. Yap, mulai berjalan ke klimaks, isu-isu sosial banyak ditonjolkan tanpa mengurangi tujuan utama ceritanya. Isu mengenai mafia atau premanisme, perdagangan obat-obat terlarang dan organ-organ manusia, eksploitasi anak yang sangat kejam ditampilkan dengan sangat jelas dan seperti nyata.

Ending dari cerita ini sempat membuat saya hampir frustasi melihat adegan yang dilakukan Tae Sik. But finally, sutradara mengakhiri cerita dengan tepat tanpa ada yang kurang dan lebih. Rasa terharu hampir mendominasi akhir dari ceritanya. Pada akhirnya mata saya berkaca-kaca. Apa yang menbuat saya tersentuh pada bagian ceritanya adalah hubungan Tae Sik dan So Mi yang tidak dilandasi dengan hubungan darah. Murni hubungan sebagai tetangga apartemen. Melalui hubungan mereka yang minim percakapan, kita bisa tahu seberapa dalam So Mi mempengaruhi kehidupan Tae Sik yang datar dan kelam. Ekspresi peran yang ditampilkan keduanya seolah menunjukkan ikatan batin yang kuat. Iringan backsong yang dibawakan oleh grup band Mad Soul Child dengan judul Dear sangat serasi dengan hubungan antara Tae Sik dan So Mi.Mengajak kita untuk ikut meresapi apa yang dirasakan oleh kedua tokoh utama.

Film ini memenangkan banyak penghargaan dalam berbagai festival diantaranya 19th Philadelphia Film Festival47th Daejong Film Awards8th Korean Film Awards31st Blue Dragon Film Awards13th Director’s Cut Awards2nd KOFRA Film Awards Ceremon47th PaekSang Arts Awards, dan 33rd Golden Cinematography Awards. Saya sangat merekomendasikan film ini sebagai film pilihan.

Tae-Sik Cha: “You live only for tomorrow.”

Man-seok: “What?”

Tae-Sik Cha: “The ones that live for tomorrow, get fucked by the ones living for today.”

Man-seok: “What are you babbling about?”

Tae-Sik Cha: “I only live for today. I’ll show you just how fucked up that can be.”

the man from nowhere 2

Iklan

Diterbitkan oleh

devilove

devi setyowati is my full name // a midwife // interested with the words world // to be a simple thinker // chocolate addict // cappucino addict // "i am not the best but i am trying my best"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s