Leafie : Fabel Kontemporer Yang Menginspirasi

Leafie

Tidak ada niatan sebelumnya untuk membeli novel ini. Bisa dikatakan secara kebetulan sekali. Waktu itu di tahun 2014, saya bersama teman dekat, mbak Icha panggilannya, pergi tanpa planning yang matang ke sebuah Festival Buku di Yogyakarta yang dihelat di Gedung Wanitatama. Kami berdua tidak berniat untuk membeli buku, there’s no enough money in our pocket, you know! Kami hanya ingin menghabiskan malam yang entah membuat kami sendiri saat itu “bosan”. Bosan dengan dunia perkuliahan yang notabene kami berdua melewati wisuda tahap pertama. Oke kembali ke topik awal yaaa….

Kami berdua berpencar saat memasuki gedung. Well, kami memiliki selera yang berbeda. Ketika saya mulai berjalan dan mengamati setumpuk buku-buku dimana-mana, kedua mata saya langsung kalap. Berubah menjadi hijau seperti melihat tumpukan uang berjuta-juta. Tapi yang saya lihat ini adalah buku. Saya berhenti di salah satu stand buku. Lupa stand dari penerbit mana. Saya langsung berkeliling melihat buku-buku di bagian meja bawah dimana tertulis semua buku diskon 50%. Hati siapa yang tidak tergiur dengan besarnya diskon tersebut dan terpampang buku-buku yang menurut saya masuk dalam list buku yang belum terkoleksi. Diantara tumpukan buku, saya terpikat dengan ilustrasi cover yang dominan berwarna hijau. Saat saya menggenggamnya dan membaca sinopsis singkat pada cover belakang, secara spontan saya tertarik membelinya.

Tokoh utama dalam novel ini adalah seekor ayam petelur. Leafie namanya. Dia memberi nama pada dirinya sendiri. Rasa kagum pada dedaunan yang tumbuh di dekat kandangnya. Kekagumannya ini karena melihat proses bagaimana dedaunan tumbuh, berguguran secara perlahan meninggalkan pohon dan terlahir kembali. “Dedaunan adalah ibu dari para bunga. Bernapas sambil bertahan hidup walau dihempas angin. Menyimpan cahaya matahari dan membesarkan bunga putih yang menyilaukan mata. Jika bukan karena dedaunan, pohon pasti tidak dapat hidup.” 

Leafie mempunyai impian yaitu bertelur dan mengeraminya sehingga bisa menjadi seekor induk seperti ayam betina yang hidup di halaman rumah. Namun hal tersebut tidak mungkin. Karena Leafie adalah ayam petelur. Telur yang dihasilkannya harus diambil untuk dijual oleh majikannya. Mengetahui impiannya tidak akan terwujud, Leafie merasa patah arang yang mengakibatkan mogok makan dan tidak menghasilkan telur yang baik. Makin lama tubuhnya kurus dan jelek. Disaat kondisi tubuhnya sakit dan sudah tidak layak untuk bertelur maka dia dibuang ke tempat penampungan oleh majikannnya. Kisah petualangannya dimulai dari sini. Dia tidak menyangka bahwa dia masih hidup dan selamat dari incaran seekor musang. Semua itu karena bantuan Bebek Pengelana.

Persahabatannya dengan Bebek Pengelana tidak langsung membuat kehidupan Leafie di luar kandang berjalan dengan mulus. Ancaman dari musang selalu menghantui. Tidak diterimanya Leafie dalam komunitas binatang di halaman rumah majikannya membuat Leafie harus mencari tempat tinggal yang aman. Perjalanan yang dilakukannya seorang diri mengantarnya bertemu dengan sebuah telur besar di balik semak-semak. Leafie tidak tahu bahwa telur tersebut milik Bebek Pengelana dengan kekasihnya, bebek Putih Susu. Impian Leafie menjadi kenyataan. Dia bisa mengerami telur tersebut dengan bantuan dari Bebek Pengelana yang selalu mengawasi dan menjaga mereka dari incaran musang. Disaat telur tersebut menetas dan melahirkan seekor anak yang lucu,Bebek Pengelana harus berkorban diri demi keselamatan Leafie dan anaknya. Pesan terakhir Bebek Pengelana pada Leafie adalah membawa anaknya ke bendungan.

Kehidupan Leafie beserta anaknya, Greenie, berubah drastis. Leafie menjadi sosok ibu yang setia melindungi dan mencarikan makan bagi Greenie. Perbedaan antara Leafie dan Greenie lambat laun disadari Leafie. Ancaman musang masih terus menghantui dan mengejar mereka. Leafie sadar tidak selamanya Greenie harus bersamanya. Greenie mempunyai kehidupan sendiri dengan jenisnya. Pesan terakhir Bebek Pengelana membuat Leafie sadar apa maksudnya. Setelah impian untuk memiliki telur, mengerami dan menjadi ibu telah tercapai, Leafie mempunyai impian terkahir yang hanya bisa diwujudkan dengan bantuan musang. Kehidupan itu ada kalanya harus berkorban. Poin penting tersebut yang saya dapat ambil di akhir cerita Leafie.

Novel ini masuk dalam kategori Fabel Kontemporer. Ditulis oleh Hwang Sun-mi, seorang professor sastra di Korea Selatan. Novel ini sendiri terbit pertama kali tahun 2000, dan di Indonesia diluncurkan pada tahun 2013. Novel Leafie telah dicetak lebih dari 1 juta eksemplar di 10 negara dan mencetak sukses yang luar biasa karena pesan moral yang disajikan untuk berbagai kalangan usia. Saya sendiri mengakui kepiawaian penulis dalam bercerita mulai dari alur dan karakteristik tokohnya diulas secara detail dan jelas. Penulis mengajak kita untuk bisa memahami bagaimana makna kehidupan itu sebenarnya bagi Leafie, yang secara lansung juga mempertanyakan pada diri kita sendiri.

Saya sangat menikmati ketika membaca novel ini yang disertai dengan ilustrasi gambar di dalamnya. Setelah saya ingat-ingat, novel ini menjadil fabel pertama yang saya baca. Secara tidak lansung menambah wawasan akan genre novel bacaan saya dan koleksi rak kamar. Sungguh sebuah “kebetulan” yang membawa saya pada rasa puas membaca karya salah satu penulis Korea Selatan. Kisah yang bercerita tentang mimpi, cinta dan pengorbanan. Karena orang yang memiliki mimpi adalah tokoh utama di muka bumi.

Iklan