Paradise Kiss (2011) : It’s About Passion in The Life

paradise-kiss-2011

Berdasarkan pada Manga dengan judul yang sama, Paradise Kiss, merupakan hasil karya Ai Yazawa. Manga ini terbit pertama kali apada tahun 1999 dan kemudian pada tahun 2005 dibuatlah animenya karena ketenaran Paradise Kiss yang melalang buana ke beberapa negara di benua Eropa dan Amerika.

Saya belum pernah membaca manganya ataupun menonton animenya. Saya tahu mengenai Paradise Kiss (Live Action) dari daftar list box office di negaranya pada saat pertama kali diluncurkan di tahun 2011. Saat itu, mood saya sedang ingin mencari rekomendasi film Jepang yang sangat layak untuk ditonton. Berjumpalah saya dengan poster yang serba dominan pink dari Paradise Kiss the movie.

Secara garis besar (katanya di media sosial), film ini bercerita sama dengan manga dan animenya. Hanya saja ada perbedaan di bagian endingnya yang sempat menimbulkan reaksi pro dan kontra dari para penikmat manga dan animenya. Saya belum membuktikan sendiri apa perbedaannya. Dan saya tidak mau menyebutkan perbedaan tersebut hanya dari apa yang dikatakan di media sosial. Saya tidak mempermasalahkan bila memang berbeda. Sutradara dan Penulisnya pasti punya alasan sendiri kenapa endingnya berbeda kan?

Bercerita mengenai kehidupan Yukari Hayasaka, seorang siswa SMA, yang kehidupannya hanya monoton dengan belajar dan belajar. Hal tersebut dia jalani karena ingin menyenangkan hati ibunya yang merupakan single parents. Di bagian ini terkadang saya sejenak berpikir, apa bedanya saya dengan Yukari sewaktu SMA? Seingat saya, dulu, orangtua menekankan pentingnya belajar dan belajar untuk masuk Universitas favorit dan terpenting lulus Ujian Akhir Nasional. Kehidupan Yukari tiba-tiba saja ‘tergoncang’ sejak bertemu dengan Arashi Nagase di jalan yang membuatnya takut dan pingsan di tangan Isabella. Saat mulai tersadar, dia bangun di sebuah studio Paradise Kiss milik sekumpulan anak-anak muda yang terjun dalam dunia fashion, Arashi Nagase, Isabella, Miwako Sakurada dan George Koizumi sebagai desainernya.

Tanpa terduga, Yukari dipilih menjadi model mereka dalam pementasan fashion kelulusan di Yakazawa Academy of Arts. Tentu saja hal tersebut ditolak oleh Yukari karena dianggap hal yang tidak penting baginya. Usaha George dan kawan-kawannya cukup ampuh untuk menarik Yukari ke dalam dunia yang baru baginya. Dimulai dengan seringnya Yukari absen dari sekolah, George yang mengajaknya ke sebuah hotel dan mengakibatkan pertengkaran hebat dengan Yukari, pertengkaran dengan ibunya yang membuat Yukari pergi dari rumah, dan terjunnya Yukari dalam sesi pemotretan karena tuntutan mencari nafkah bagi dirinya sendiri. Semua yang dialami Yukari membuat ia tersadar sendiri, apa yang sebenarnya dia inginkan dan siapa dia sebenarnya. Yukari menjadi ingat apa yang pernah George katakan pada dirinya saat dia menolak mentah-mentah menjadi modelnya, ‘You don’t know who you are!”

Pada akhirnya Yukari dapat membawakan gaun rancangan George dalam acara fashion kelulusan. Saat itu dia tersadar apa yang benar-benar dia inginkan untuk dirinya sendiri. Yukari juga mengerti kenapa cintanya selama 3 tahun kepada Hiroyuki Tokumori tidak pernah tersampaikan. Untuk memantapkan langkahnya menuju apa yang diinginkan, Yukari harus berjalan sendiri di jalannya. Tanpa ada George, Isabella, Arashi dan Miwako. Perpisahannya dengan George membuat ia tersadar akan satu hal yang dirasakannya.

Segi visual yang disajikan dalam Paradise kiss sangat memanjakan mata. Secara konsep visual keseluruhan saya acungi jempol. Tema fashion yang diangkat juga menyegarkan mata kita, terutama bagi kaum hawa seperti saya. Pemilihan karakter untuk George dan Yukari saya nilai tepat. Keiko Kitagawa yang berperan sebagai Yukari notabene adalah seorang model profesional. Maka, untuk akting sebagai model tak diragukan lagi. Osamu Mukai sebagai George juga apik dalam mendalami karakternya. Hanya saja saya sedikit terganggu bila George tidak memakai topi. Tampak tidak keren.

Film arahan sutradara Takehiko Shinjo ini bisa menarik penonton hingga menjadi box office di Jepang. Penuangan cerita dari 5 jilid manganya dapat tertuang secara sederhana ke dalam film tanpa menggunakan akting yang dilebih-lebihkan seperti film adaptasi manga pada umumnya. Pemilihan Lagu-lagu dari Yui dan Sweetbox yang dijadikan sebagai soundtrack tampak sangat klop dengan genre film yang diusung.

“You don’t have to walk straight. Sway, or turn if you like, as long as it’s your own walk.Walk on your own feet.”
Iklan

Novel 5 Centimeter per Second : Rasa Sakit Dari Kehilangan

5 centimeter per second novel

Setelah beberapa tahun yang lalu menonton movie-nya hingga lebih dari 3 kali, akhirnya kemarin saya selesai membaca versi novelnya. Novel yang ditulis langsung oleh Makoto Shinkai, selaku Director dan Screenwriter dari movie-nya, memiliki esensi yang berbeda dari menonton filmnya. Awalnya saya sempat ragu jika ekspektasi saya yang berharap harus lebih bagus akan dikecewakan karena saya sudah ‘jatuh cinta’ dengan animenya. Saya pernah mengulas film 5 centimeter per second sebelumnya menurut sudut pandang saya sebagai orang awam terhadap dunia anime. Kenyataannya, setelah saya menyelesaikan novel tersebut hanya dalam 2 hari, lalu menutupnya di akhir cerita, saya sejenak terdiam. Diam saya bukan karena kecewa. Diam saya karena, kenapa Makoto begitu “kejam” membuat saya mengingat kembali rasa kehilangan.

Sejauh yang saya tahu dari karya-karya Makoto memang membuat “galau” bagi penikmatnya. Dia memang berkata dalam novelnya bahwa karya-karyanya, pada dasarnya, memberikan arti apa itu “kehilangan“. Baginya, kehilangan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dari kehidupan siapa saja. Kehilangan adalah sesuatu yang harus dilalui dengan banyak cara. Jujur, saya terlalu benci jika membahas tentang kehilangan. Di satu sisi saya sadar bahwa ketika kehilangan itu ada, maka akan ada ganti yang muncul walau terkadang belum tentu sesuai dengan yang hilang. Apa yang disampaikan Makoto, dari sudut pandang saya tentunya, menyampaikan kehilangan dalam arti yang dalam. Dimana kehilangan sesuatu di awal akan berdampak pada perjalanan hidup kemudian.

Hadirnya novel ini memang sangat spesial. Pada filmnya lebih banyak menampilkan visual yang sangat menyayat hati. Sedangkan novel hadir sebagai pelengkap untuk lebih banyak menjelaskan secara detail apa yang dirasakan Takaki, Akari dan Kanae. Di dalam novel tetap menampilkan 3 bab utama seperti di dalam film : Bunga Sakura, Kosmonot dan 5 cm per detik. Bagian cerita dari bab 5 cm per detik lebih banyak dibandingkan 2 bab awalnya. Hal itu berbeda dengan filmnya dimana bagian 5 cm per detik sangat singkat.

Bagian bunga sakura menceritakan dari sudut pandang Takaki ketika SD bersama dengan Akari yang berlanjut dengan perpisahan pertama, lalu pertemuan dengan Akari ketika duduk di bangku SMP yang membutuhkan perjuangan dan diakhiri dengan perpisahan indah namun terasa sangat pahit di dalam. Ketika saya menyelesaikan bab pertama, sesaat saya menghela nafas panjang sebelum saya melanjutkan ke bab selanjutnya.

Bagian bab kedua dengan judul kosmonot menceritakan dari sudut pandang Kanae. Di dalam novel ini saya lebih bisa mengerti dengan baik siapa dan bagaimana perasaan Kanae. Hal itu awalnya tidak saya dapatkan secara intens di filmnya. Saya hanya mengerti sekilas saja apa yang dirasakan Kanae dalam film. Makoto sangat lihai menampilkan rasa sakit “yang lain” dari orang berbeda, maksudnya bukan tokoh utamanya. Setelah di bab awal kita cukup merasakan rasa kehilangan dari Takaki dan Akari, maka kita merasakan lagi rasa kehilangan dari Kanae.

Bab terakhir yaitu 5 cm per detik menjadi bagian yang lebih memuaskan untuk menutup cerita novel ini. Makoto mengambil cerita dari sudut pandangnya. Kita akan tahu bagaimana lengkapnya kehidupan yang dijalani Takaki setelah lulus SMA, memasuki dunia perkuliahan dan kerja di Kota Tokyo. Perjalanan kisah berpacarannya dimulai dalam bab ini. Total ada 3 perempuan yang menjadi pacarnya selama kuliah dan kerja. Dan kesemuanya berakhir dengan perpisahan yang cukup menyakitkan bagi Takaki. Walaupun sebenarnya, pacar ketiganya yaitu Risa Mizuno menjadi harapan saya untuk dapat menjadi yang terakhir bagi Takaki. Seperti yang diungkapkan Makoto, cinta pertama adalah kutukan yang akan menjadi pola kita berhubungan dengan orang lain seterusnya. Kegagalan Takaki dalam menjalin hubungan memang tidak terlepas dari apa yang ia rasakan terhadap Akari. Walaupun Akari pernah berkata pada Takaki, “Aku yakin kau akan baik-baik saja Takaki-kun.”

Ada bagian percakapan antara Takaki dan Mizuno yang saya sukai. Percakapan ini tidak ringan dan tidak berat, cukup menggelitik saya. Dan pada akhirnya Makoto menuliskan beberapa kalimat yang membuat saya sendiri berpikir mengenai diri saya sendiri.

Ia selalu bersusah payah mencari tempat dimana ia diterima. Bahkan sampai sekarang ia merasa ia belum menemukannya. Ia merasa ia tidak menggapai apa-apa. Itu tidak terasa seperti ia sedang mencari ‘diriku yang sesungguhnya’. Terasa seperti ia sudah setengah jalan melewati sesuatu. Namun dimanakah yang ia tuju?

Kenapa saya cukup tergelitik pada bagian kalimat tersebut? Secara tidak langsung pula Makoto seperti membicarakan tentang saya. Pada bagian hal ini, saya merasa seperti Takaki. Tetapi saya tidak ingin kisah yang lainnya pula sama.

Apa yang ingin disampaikan Makoto secara garis besarnya dapat saya tangkap. Makoto tidak mengajak kita “galau” dengan karyanya. Tetapi, dia ingin kita mempelajari bahwa selama manusia hidup akan mengalami terluka. Dan bagaimana cara kita bisa mengatasi luka kita masing-masing agar tidak terbawa pada hubungan selanjutnya. Antara film dan novel memiliki kekuatan masing-masing dalam bercerita. Pada film diperkuat dengan visual dan soundtrack lagu yang padu padan. Dalam novel memiliki kekuatan dalam menjabarkan secara runtun melalui kalimat yang mudah dipahami. Novel ini terkesan jauh dari cacat. Saya merasa puas setelah membacanya walaupun saya merasakan perih di dalam hati. Menutup novel ini, saya pun bergumam dalam batin. Takaki pasti akan baik-baik saja.

Girl In The Sunny Place : The Secret Life of Mao

The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_007034825 The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_006547999

Film Jepang menjadi daya tarik tersendiri bagi saya sebagai seorang penikmatnya. Apalagi dengan genre romantis. Di antara film Jepang dan Korea untuk genre romantis, saya masih cenderung lebih menyukai alur cerita film Jepang yang saya nilai “lugu”. Film Jepang memang berani mengekspos hal-hal yang tidak wajar, tetapi seringkali terlihat “lugu”.

Sudah banyak film Jepang yang saya ikuti. Saya lebih memilih menonton filmnya daripada doramanya. Entahlah dikarenakan apa, saya sendiri menganggapnya karena suka saja. Seperti film-film yang lainnya, saya tahu tentang film Girl In The Sunny Place melihat resensi dari asianwiki.com. Salah satu tokoh utamanya adalah Juri Ueno, yang saya ketahui dari dorama hits Nodame Cantabile. Ketika saya mulai melihat trailer dari film ini, saya langsung suka karena banyak rahasia yang menjadi tagline-nya. Rasa penasaran harus saya tebus dengan menonton filmnya.

edit2

Judul lain dari film ini adalah Her Sunny Side. Film ini adaptasi dari novel “Hidamari no Kanojo” karya Osamu Koshigaya yang diterbitkan pada tahun 2011. Film ini berkisah tentang Kosuke Okuda (Jun Matsumoto) dan Mao Watarai (Juri Ueno). Mereka adalah sepasang sahabat ketika SMP. Hal ini dimulai ketika Mao menjadi siswa baru di sekolah Kosuke dan menjadi sasaran bully dikarenakan Mao tidak mampu dalam segala hal dan dianggap bodoh. Seperti cerita romantis Jepang ketika ada salah satu tokohnya di-bully maka ada tokoh lain yang melindungi. Kosuke-lah yang menjadi tokoh pelindung bagi Mao. Persahabatan terjalin di antara mereka hingga rasa suka dan cinta. Namun, kisah asmara saat SMP harus disudahi ketika Kosuke harus pindah ke kota lain mengikuti orangtuanya. Komunikasi di antara mereka hilang dengan begitu saja.

Cerita dimulai ketika Kosuke sudah dewasa dan bekerja di salah satu perusahaan periklanan. Tampaknya masa remaja dan dewasa Kosuke dihabiskan dengan membosankan tanpa adanya bumbu-bumbu percintaan. Hal tersebut tampak ketika adik Kosuke selalu mengejek kakaknya. Berbeda dengan kakaknya, adiknya tampak seperti orang playboy. Mungkin Kosuke masih menyimpan harapan untuk bertemu dengan teman masa SMP-nya.

Kosuke dan rekannya mendapatkan proyek kerjasama dengan perusahaan lain dalam membuat iklan untuk memperkenalkan produk kliennya. Ketika Kosuke mendatangi tempat mitranya, disanalah dia tidak menyangka bertemu dengan Mao yang tampak berbeda dan cantik. Dari pertemuan itu, komunikasi di antara mereka berlanjut. Kisah cinta keduanya pun mulai berkembang lagi. Hingga pada akhirnya Kosuke memberanikan diri untuk melamar Mao. Di saat pertemuan dengan orangtua Mao, Kosuke akhirnya mengetahui kebenaran mengenai isu yang pernah beredar ketika SMP mengenai siapa sebenarnya Mao dari ayah Mao. Kosuke tidak mempermasalahkan kenyataan tersebut dan dia mencintai apa adanya Mao.

The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_003900848The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_002652477

Semuanya tidak berhenti disini saja. Setelah pernikahan dan mereka berdua mulai tinggal bersama, ada beberapa kejadian yang mulai menyerang Mao. Disini awalnya saya menebak bahwa Mao mengidap suatu penyakit tertentu, seperti cerita drama-drama Jepang dan Korea pada umumnya. Namun, tebakan itu tidak tepat. Karena ada sebuah kejadian yang berkaitan dengan masa kecil Kosuke ketika dia bermain di pantai dan menolong seekor kucing kecil. Kejadian selanjutnya ketika anak tetangga mereka yang hampir jatuh dari teras yang tinggi dan Mao menolongnya dari ketinggian yang tidak lazim untuk selamat. Sedikit demi sedikit Kosuke mulai mencari tahu siapa sebenarnya Mao. Ketika semua hampir terungkap, tiba-tiba Mao menghilang. Semua orang yang berhubungan dengan Mao tidak mengenal siapa Mao. Kosuke tampak semakin bingung. Satu-satunya tempat yang disukai oleh Mao menjadi tujuan akhir Kosuke mencari Mao dan menjadi jawaban penting bagi Kosuke.

Film ini dibalut dengan sangat perlahan dan tidak buru-buru untuk segera mengakhiri tanpa adanya taste. Diawal cerita hingga klimaksnya kita masih sulit mencari makna dari ceritanya. Saat semua rahasia mulai terkuak yang masih berhubungan dengan masa kecil Kosuke, di saat itulah kita paham apa yang ingin disampaikan film ini. Sebuah permintaan dan doa untuk bisa bertemu, mengucapkan terima kasih dan membalas kasih sayang kepada seseorang yang rela terluka demi dirinya menjadi inti dari ceritanya.

Sinematografi dari film ini saya acungi jempol. Sangat keren. Seperti judulnya yang terdapat kata ‘sunny‘, maka film ini diambil dengan latar cahaya dari matahari. Sangat teduh dan menyilaukan secara bersamaan. Setting tempat yang digunakan juga indah. Menambah film ini menjadi indah. Soundtrack yang digunakan dalam film ini adalah lagu kesukaan Mao. Sekali mendengarnya saja kita mudah jatuh cinta. Begitu dengan saya saat pertama mendengar lagu yang menjadi soundtrack-nya. Lagunya membuat kita ingin menggerakkan tubuh seperti Mao. Wouldn’t it be nice adalah judul lagunya yang dikeluarkan pada tahun 1966 oleh band legendaris Beach Boys (sama halnya seperti The Beatles). Lagu ini menjadi list wajib dalam handphone saya setelah menonton filmnya.

The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_006682851

Wouldn’t it be nice if we werw older? Then we wouldn’t have to wait so long. And wouldn’t it be nice to live together. In the kind of world where we belong

5 cm per second

page1

Sesak. Tak ada airmata.

Dada hanya terasa sesak selesai menonton movie ini. Well, bisa dikatakan bahwa film ini mampu mengaduk aduk perasaan dan emosi saya.

Marah, jengkel, dan yang terutama ‘geregetan’ sekali terhadap Takaki. Ingin rasanya saya nyamperin dan berteriak di mukanya. “Apakah memang jarak yang harus dipersalahkan??”

Sampai saat ini hanya film anime ini -menurut saya- yang bagus. Mulai dari alur ceritanya, soundtracknya, narasinya, kualitas gambarnya, efek animasinya dan yang utama adalah detail penggambaran tempat serta benda2nya. Semuanya terasa nyata padahal film ini hanyalah animasi. Kenyataan tersebut juga terasa pada jalan ceritanya yg tidak dibuat buat sama sekali. Dibuat se-realita mungkin. Hanya 1 hal yg saya sesali, kenapa tidak dari dulu saya menonton animasi ini -_-

Film ini terdiri dari 3 bagian yaitu The Chosen Cherry Blossoms, Cosmonaut dan 5 Centimeters Per SecondSemua bagian tersebut saling terhubung. Seperti judul bagian terakhir yaitu 5 cm/second, secara sekilas kita akan sedikit bingung apa hubungannnya dengan jalan ceritanya. Tetapi bila dicerna secara baik2 bahwa arti yg sebenarnya dalam banget berhubungan dengan jalan ceritanya.

5 cm/second adalah kecepatan bunga sakura saat jatuh antara satu bunga dengan bunga lainnya. Mungkin sekilas kitA akan menganggap bahwa 5 cm adalah jarak yg tidak penting. Tetapi tahukah kalian bahwa jarak 5 cm itu sangatlah penting apalagi 1 cm bila semuanya sudah terlambat.

Takaki dan Akari adalah 2 tokoh sentral dalam film ini. Mereka adalah teman sejak kecil. Waktu dan jarak yg akhirnya memisahkan mereka. Akari harus pindah rumah mengikuti orangtuanya. Dan Takaki pun pada akhirnya juga move mengikuti orangtuanya. Berbagai kendala menghadapi keduanya saat mereka mencoba untuk saling bertemu. Salah satu penghalangnya adalah kereta api, yg sepertinya berperan menjadi tokoh antagonis (jadi kesel sendiri ma kereta yg lewat). Dan bagaimana pada akhirnya, apakah mereka bisa mengalahkan semua rintangan??? Well,,,kalian harus nonton sendiri. 🙂

“I love you even today. Even if we were to exchange mail a thousand times, our hearts would probably not move closer by even one centimeter.”

page

K – Only Human

Lagu ini pertama kali saya dengar dari dorama Jepang “1 Litre of Tears”. Dorama ini sangat terkenal karena diambil dari kisah nyata. Jalan ceritanya pun tidak luput membuat saya menghabiskan beberapa lembar tisu. Ditambah dengan lagu ini sebagai ost-nya menjadi pelengkap untuk menyayat hati saya. Bagi yang ingin dengar lagu melow dan sedih, lagu ini rekomendasi sekali.