Paradise Kiss (2011) : It’s About Passion in The Life

paradise-kiss-2011

Berdasarkan pada Manga dengan judul yang sama, Paradise Kiss, merupakan hasil karya Ai Yazawa. Manga ini terbit pertama kali apada tahun 1999 dan kemudian pada tahun 2005 dibuatlah animenya karena ketenaran Paradise Kiss yang melalang buana ke beberapa negara di benua Eropa dan Amerika.

Saya belum pernah membaca manganya ataupun menonton animenya. Saya tahu mengenai Paradise Kiss (Live Action) dari daftar list box office di negaranya pada saat pertama kali diluncurkan di tahun 2011. Saat itu, mood saya sedang ingin mencari rekomendasi film Jepang yang sangat layak untuk ditonton. Berjumpalah saya dengan poster yang serba dominan pink dari Paradise Kiss the movie.

Secara garis besar (katanya di media sosial), film ini bercerita sama dengan manga dan animenya. Hanya saja ada perbedaan di bagian endingnya yang sempat menimbulkan reaksi pro dan kontra dari para penikmat manga dan animenya. Saya belum membuktikan sendiri apa perbedaannya. Dan saya tidak mau menyebutkan perbedaan tersebut hanya dari apa yang dikatakan di media sosial. Saya tidak mempermasalahkan bila memang berbeda. Sutradara dan Penulisnya pasti punya alasan sendiri kenapa endingnya berbeda kan?

Bercerita mengenai kehidupan Yukari Hayasaka, seorang siswa SMA, yang kehidupannya hanya monoton dengan belajar dan belajar. Hal tersebut dia jalani karena ingin menyenangkan hati ibunya yang merupakan single parents. Di bagian ini terkadang saya sejenak berpikir, apa bedanya saya dengan Yukari sewaktu SMA? Seingat saya, dulu, orangtua menekankan pentingnya belajar dan belajar untuk masuk Universitas favorit dan terpenting lulus Ujian Akhir Nasional. Kehidupan Yukari tiba-tiba saja ‘tergoncang’ sejak bertemu dengan Arashi Nagase di jalan yang membuatnya takut dan pingsan di tangan Isabella. Saat mulai tersadar, dia bangun di sebuah studio Paradise Kiss milik sekumpulan anak-anak muda yang terjun dalam dunia fashion, Arashi Nagase, Isabella, Miwako Sakurada dan George Koizumi sebagai desainernya.

Tanpa terduga, Yukari dipilih menjadi model mereka dalam pementasan fashion kelulusan di Yakazawa Academy of Arts. Tentu saja hal tersebut ditolak oleh Yukari karena dianggap hal yang tidak penting baginya. Usaha George dan kawan-kawannya cukup ampuh untuk menarik Yukari ke dalam dunia yang baru baginya. Dimulai dengan seringnya Yukari absen dari sekolah, George yang mengajaknya ke sebuah hotel dan mengakibatkan pertengkaran hebat dengan Yukari, pertengkaran dengan ibunya yang membuat Yukari pergi dari rumah, dan terjunnya Yukari dalam sesi pemotretan karena tuntutan mencari nafkah bagi dirinya sendiri. Semua yang dialami Yukari membuat ia tersadar sendiri, apa yang sebenarnya dia inginkan dan siapa dia sebenarnya. Yukari menjadi ingat apa yang pernah George katakan pada dirinya saat dia menolak mentah-mentah menjadi modelnya, ‘You don’t know who you are!”

Pada akhirnya Yukari dapat membawakan gaun rancangan George dalam acara fashion kelulusan. Saat itu dia tersadar apa yang benar-benar dia inginkan untuk dirinya sendiri. Yukari juga mengerti kenapa cintanya selama 3 tahun kepada Hiroyuki Tokumori tidak pernah tersampaikan. Untuk memantapkan langkahnya menuju apa yang diinginkan, Yukari harus berjalan sendiri di jalannya. Tanpa ada George, Isabella, Arashi dan Miwako. Perpisahannya dengan George membuat ia tersadar akan satu hal yang dirasakannya.

Segi visual yang disajikan dalam Paradise kiss sangat memanjakan mata. Secara konsep visual keseluruhan saya acungi jempol. Tema fashion yang diangkat juga menyegarkan mata kita, terutama bagi kaum hawa seperti saya. Pemilihan karakter untuk George dan Yukari saya nilai tepat. Keiko Kitagawa yang berperan sebagai Yukari notabene adalah seorang model profesional. Maka, untuk akting sebagai model tak diragukan lagi. Osamu Mukai sebagai George juga apik dalam mendalami karakternya. Hanya saja saya sedikit terganggu bila George tidak memakai topi. Tampak tidak keren.

Film arahan sutradara Takehiko Shinjo ini bisa menarik penonton hingga menjadi box office di Jepang. Penuangan cerita dari 5 jilid manganya dapat tertuang secara sederhana ke dalam film tanpa menggunakan akting yang dilebih-lebihkan seperti film adaptasi manga pada umumnya. Pemilihan Lagu-lagu dari Yui dan Sweetbox yang dijadikan sebagai soundtrack tampak sangat klop dengan genre film yang diusung.

“You don’t have to walk straight. Sway, or turn if you like, as long as it’s your own walk.Walk on your own feet.”

A Walk To Remember : The First Time I Knew About Nicholas Sparks

a walk to remember

Sekitar antara tahun 2002-2003 ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya menonton film A Walk To Remember (selanjutnya akan saya singkat AWTR). Saya tidak ingat persis dimana dan bagaimana saya bisa menonton film ini. Yang pasti tidak di bioskop. Saat itu di kota tempat saya tinggal tidak ada bioskop. Dan tidak mungkin saya pergi keluar kota dengan usia yang masih ababil (pra-remaja) untuk mendapat ijin ortu hanya sekedar menonton film. Well, saya benar-benar tidak ingat bagaimana perkenalan saya dengan film ini.

Pertama kali saya tahu tentang AWTR adalah sebuah film. Dan baru saya ketahui saat saya menikmati perjalanan filmnya, ternyata AWTR adalah novel karya Nicholas Sparks. Disinilah awal mula saya mulai kenal dengan penulis Nicholas dan mulai menyukai karya-karya selanjutnya. Nicholas adalah penulis yang mempunyai ciri khas, yaitu karya romance-nya. Semua karya novelnya sampai sekarang yang saya ketahui ada sekitar 10, dan kesemuanya bertema romance dengan keunikan masing-masing dan tidak membosankan.

Dengan pengetahuan yang kosong tentang penulis novel AWTR, para pemainnya bahkan bagaimana sinopsis jalan ceritanya, saya hanya mengalir saja dan hanya berniat sekedar menonton saja. Mengisi waktu luang saja saat itu. Tanpa terduga, di bagian akhir jalan cerita film selesai, saya merasa puas sekali. Secara keseluruhan saya sangat menikmati semua yang ada dalam film AWTR. Saya mulai suka Mandy Moore dengan suaranya yang lembut, dan saya menjadi penggemar karya Nicholas Sparks.

Beberapa tahun setelah saya menonton film AWTR, saya membeli novel AWTR dan menamatkannya hanya dalam 2 hari. Novelnya tidak tebal dan besar. Ukuran sedang dengan ketebalan yang cukup sedikit untuk ukuran sebuah novel. Feel yang saya dapatkan setelah menonton filmnya dan membaca novelnya sangat berbeda. Biasanya, bila kita sudah membaca novel yang kemudian kita menonton karya adaptasinya kedalam layar lebar, pasti kita akan lebih memilih novelnya. Karena tidak semua adegan dalam novel tertuang semua ke dalam film. Seperti yang saya rasakan di semua serial Harry Potter. Tetapi, untuk AWTR hal tersebut berbeda. Karena antara novel dan film dibuat setting yang berbeda walaupun inti cerita tetap sama.

Berkisah mengenai Landon Carter, seorang siswa SMA, yang dikenal dengan kenakalannya sebagai seorang remaja. Di usianya yang akan memasuki pendidikan perguruan tinggi, sewajarnyalah bila Landon harus memikirkan bagaimana masa depannya. Dalam film dan novel, Landon adalah anak remaja nakal ‘akut’. Di film digambarkan dengan jelas kenakalannya seperti pulang malam, mabuk, dan berbuat sesuatu yang ekstrim untuk mempermainkan temannya (dalam novel hal ini tidak ada). Landon tinggal di sebuah kota kecil dimana masyarakatnya penganut Kristen yang menjunjung tinggi norma agama.

Jamie Sullivan, tetangga dalam satu area kota yang sama dengan Landon dan juga teman mulai dari sekolah dasar, adalah perempuan yang dikenal dengan ketaatannya terhadap Injil. Di sekolah, Jamie selalu menggunakan sweeter dan membawa Injilnya. Dalam film, Injil tidak menjadi sorotan utama seperti dalam novel. Jamie yang suka menyanggul rambutnya dalam novel, berbeda dalam film. Disinilah yang membuat saya baru sadar bahwa setting waktu dalam novel sekitar tahun 50-an. Dan film mengambil waktu sekitar tahun 80-an. Hal inilah yang membuat penikmat AWTR lebih suka film (setelah membaca resensi banyak orang di dunia maya) daripada novel.

Dunia Landon dan Jamie sungguh berbeda. Landon dan teman-temannya sering mengolok bagaimana penampilan Jamie dan keluarganya di belakangnya. Jamie pun menganggap hal itu tidaklah penting karena Jamie orang yang memang sangat baik. Pada akhirnya Landon harus mengikuti kelas drama yang menjadikannya sebagai pemeran utama pria dalam pementasan drama tersebut. Karena kelas drama inilah, Landon dan Jamie memiliki banyak waktu mengobrol. Landon yang tidak terbiasa dengan kelas drama harus meminta bantuan pada Jamie agar penghafalan naskah menjadi lancar. Jamie yang menerima permintaan tolong Landon mengajukan satu syarat. Jamie meminta Landon untuk tidak jatuh cinta padanya. Well, bisa ketebak bagaimana akhirnya setelah pementasan drama selesai. Yap, Landon termakan sendiri dengan janjinya. Dia jatuh hati pada Jamie. Apa yang dipikirkannya tentang Jamie selama ini adalah salah. Jamie yang dikenal dengan orang yang suci dan penuh dengan ajaran Tuhan, sebenarnya adalah remaja normal pada umumnya. Sifat baiknya adalah nilai tambah pada dirinya.

Jamie yang mengajukan syarat untuk jangan ‘jatuh cinta’ padanya memiliki alasan tersendiri kenapa dia mengucapkannya. Disaat Landon merasa dirinya berubah menjadi orang berbeda dan lebih baik sejak mengenal dekat Jamie harus menerima kenyataan yang pahit mengenai rahasia yang dimiliki Jamie. Berbagai upaya dilakukan Landon untuk Jamie agar perempuan yang dicintainya bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Perjalanan bersama Jamie membuat Landon bisa mengerti apa arti dari sebuah masa depan, harapan dan cinta yang terbentang luas di depannya.

“Love is like the wind. We can’t see it, but we can feel it.”

Secara garis besarnya untuk AWTR, saya lebih suka versi film daripada novelnya. Lebih bisa menikmati dan mendapatkan pesan yang disampaikan. Namun hal tersebut tidak mengurangi kesukaan saya pada karya-karya novel Nicholas lainnya. Lagu-lagu yang menjadi soundtrack filmnya pun sangat recommended. Mandy Moore sebagai pemain utama pemeran Jamie adalah seorang penyanyi. Dan tentu saja, lagu-lagu dalam film AWTR dibawakannya dalam harmonisasi yang pas. Bagian soundtrack yang sangat saya suka adalah ketika Mandy menyanyikan ‘Only Hope’ milik Switchfoot saat pementasan drama dan ketika Landon dan Jamie berdansa di balkon diiringi lagi Someday we’ll know yang dinyanyikan Mandy dengan Jonathan dari lagu asli band New Radicals. AWTR menjadi film romantis kesukaan saya hingga saat ini.

A Lot Like Love : “Don’t ruin it!”

a lot like love“there’s nothing better than a great romance to ruin a perfectly good friendship”

 Saya senang melihat review-review dari film lama. Tak terkecuali film yang satu ini. Film yang tayang perdana pada tahun 2005 (wow!! ketika saya masih SMP). Karena keahlian saya menyelam di dunia Google dan secara tidak terduga tahu tentang film ini, maka tak perlu menunggu waktu lama. Saya langsung mencari film ini dan menontonnya. Inti dari film ‘a lot like love’ ada pada tag kalimat diatas. Kita juga bisa menebak bagaimana ending dari film ini yang secara jelas pasti happy ending. Tetapi yang membuat saya menyukai film ini setelah menontonnya adalah cara pengemasannya, yang menurut saya dikemas dengan sangat sederhana dan alami. Colin Patrick Lynch menulis ceritanya tanpa dibuat-buat.

Oliver dan Emily adalah dua tokoh yang menjadi inti cerita ini. Di awal film, dari penampilan pertama mereka muncul sudah bisa kita nilai bagaimana karakter dari Oliver dan Emily. Pada dasarnya karakter mereka sangat bertolak belakang. But, love didn’t look anything. Pada saat saya menonton, saya sempat bergumam, “kok bisa ya Oliver tertarik dengan cewek seperti itu?” Pertemuan pertama mereka pun tidak bisa dikatakan dengan pertemuan yang manis. Tetapi pertemuan yang crazy banget. Emily tipikal orang urakan, sedangkan Oliver tipikal yang kalem banget. Setelah pertemuan tersebut, ikatan persahabatan diantara mereka terbentuk. Hubungan persahabatan mereka bikin saya ‘geregetan’ tiap kali nonton. Gimana gak, mereka saling menyadari kalo saling suka. Oliver ingin hubungan yang lebih dari sekedar teman, but Emily hanya dengan kalimat “don’t ruin it!” yang ia ucapkan cukup memberi gambaran bagaimana hubungan yang semestinya diantara mereka. Oliver paham dan mengikuti alur permainan agar tidak merusak suasana di antara mereka.

Waktu menjadi pembuktian bagi mereka. Tidak hanya dalam hitungan setahun atau dua tahun saja waktu menyadarkan mereka. Tetapi lebih dari 5 tahun. Dan dengan permainan waktu serta jalan cerita yang dikemas membuat ‘chemistry’ dari film ini hidup dan asyik untuk diikuti. Tak sekedar itu, soundtrack dari film ini pas dan keren banget. Ada 3 lagu yang saya suka dari keseluruhan soundtracknya, ‘Brighter than sunshine‘ by Aqualung, ‘if u leave me now‘ by Chicago dan ‘Look what u’ve done‘ by Jet.

Girl In The Sunny Place : The Secret Life of Mao

The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_007034825 The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_006547999

Film Jepang menjadi daya tarik tersendiri bagi saya sebagai seorang penikmatnya. Apalagi dengan genre romantis. Di antara film Jepang dan Korea untuk genre romantis, saya masih cenderung lebih menyukai alur cerita film Jepang yang saya nilai “lugu”. Film Jepang memang berani mengekspos hal-hal yang tidak wajar, tetapi seringkali terlihat “lugu”.

Sudah banyak film Jepang yang saya ikuti. Saya lebih memilih menonton filmnya daripada doramanya. Entahlah dikarenakan apa, saya sendiri menganggapnya karena suka saja. Seperti film-film yang lainnya, saya tahu tentang film Girl In The Sunny Place melihat resensi dari asianwiki.com. Salah satu tokoh utamanya adalah Juri Ueno, yang saya ketahui dari dorama hits Nodame Cantabile. Ketika saya mulai melihat trailer dari film ini, saya langsung suka karena banyak rahasia yang menjadi tagline-nya. Rasa penasaran harus saya tebus dengan menonton filmnya.

edit2

Judul lain dari film ini adalah Her Sunny Side. Film ini adaptasi dari novel “Hidamari no Kanojo” karya Osamu Koshigaya yang diterbitkan pada tahun 2011. Film ini berkisah tentang Kosuke Okuda (Jun Matsumoto) dan Mao Watarai (Juri Ueno). Mereka adalah sepasang sahabat ketika SMP. Hal ini dimulai ketika Mao menjadi siswa baru di sekolah Kosuke dan menjadi sasaran bully dikarenakan Mao tidak mampu dalam segala hal dan dianggap bodoh. Seperti cerita romantis Jepang ketika ada salah satu tokohnya di-bully maka ada tokoh lain yang melindungi. Kosuke-lah yang menjadi tokoh pelindung bagi Mao. Persahabatan terjalin di antara mereka hingga rasa suka dan cinta. Namun, kisah asmara saat SMP harus disudahi ketika Kosuke harus pindah ke kota lain mengikuti orangtuanya. Komunikasi di antara mereka hilang dengan begitu saja.

Cerita dimulai ketika Kosuke sudah dewasa dan bekerja di salah satu perusahaan periklanan. Tampaknya masa remaja dan dewasa Kosuke dihabiskan dengan membosankan tanpa adanya bumbu-bumbu percintaan. Hal tersebut tampak ketika adik Kosuke selalu mengejek kakaknya. Berbeda dengan kakaknya, adiknya tampak seperti orang playboy. Mungkin Kosuke masih menyimpan harapan untuk bertemu dengan teman masa SMP-nya.

Kosuke dan rekannya mendapatkan proyek kerjasama dengan perusahaan lain dalam membuat iklan untuk memperkenalkan produk kliennya. Ketika Kosuke mendatangi tempat mitranya, disanalah dia tidak menyangka bertemu dengan Mao yang tampak berbeda dan cantik. Dari pertemuan itu, komunikasi di antara mereka berlanjut. Kisah cinta keduanya pun mulai berkembang lagi. Hingga pada akhirnya Kosuke memberanikan diri untuk melamar Mao. Di saat pertemuan dengan orangtua Mao, Kosuke akhirnya mengetahui kebenaran mengenai isu yang pernah beredar ketika SMP mengenai siapa sebenarnya Mao dari ayah Mao. Kosuke tidak mempermasalahkan kenyataan tersebut dan dia mencintai apa adanya Mao.

The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_003900848The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_002652477

Semuanya tidak berhenti disini saja. Setelah pernikahan dan mereka berdua mulai tinggal bersama, ada beberapa kejadian yang mulai menyerang Mao. Disini awalnya saya menebak bahwa Mao mengidap suatu penyakit tertentu, seperti cerita drama-drama Jepang dan Korea pada umumnya. Namun, tebakan itu tidak tepat. Karena ada sebuah kejadian yang berkaitan dengan masa kecil Kosuke ketika dia bermain di pantai dan menolong seekor kucing kecil. Kejadian selanjutnya ketika anak tetangga mereka yang hampir jatuh dari teras yang tinggi dan Mao menolongnya dari ketinggian yang tidak lazim untuk selamat. Sedikit demi sedikit Kosuke mulai mencari tahu siapa sebenarnya Mao. Ketika semua hampir terungkap, tiba-tiba Mao menghilang. Semua orang yang berhubungan dengan Mao tidak mengenal siapa Mao. Kosuke tampak semakin bingung. Satu-satunya tempat yang disukai oleh Mao menjadi tujuan akhir Kosuke mencari Mao dan menjadi jawaban penting bagi Kosuke.

Film ini dibalut dengan sangat perlahan dan tidak buru-buru untuk segera mengakhiri tanpa adanya taste. Diawal cerita hingga klimaksnya kita masih sulit mencari makna dari ceritanya. Saat semua rahasia mulai terkuak yang masih berhubungan dengan masa kecil Kosuke, di saat itulah kita paham apa yang ingin disampaikan film ini. Sebuah permintaan dan doa untuk bisa bertemu, mengucapkan terima kasih dan membalas kasih sayang kepada seseorang yang rela terluka demi dirinya menjadi inti dari ceritanya.

Sinematografi dari film ini saya acungi jempol. Sangat keren. Seperti judulnya yang terdapat kata ‘sunny‘, maka film ini diambil dengan latar cahaya dari matahari. Sangat teduh dan menyilaukan secara bersamaan. Setting tempat yang digunakan juga indah. Menambah film ini menjadi indah. Soundtrack yang digunakan dalam film ini adalah lagu kesukaan Mao. Sekali mendengarnya saja kita mudah jatuh cinta. Begitu dengan saya saat pertama mendengar lagu yang menjadi soundtrack-nya. Lagunya membuat kita ingin menggerakkan tubuh seperti Mao. Wouldn’t it be nice adalah judul lagunya yang dikeluarkan pada tahun 1966 oleh band legendaris Beach Boys (sama halnya seperti The Beatles). Lagu ini menjadi list wajib dalam handphone saya setelah menonton filmnya.

The.Girl.in.the.Sun.2013.mkv_006682851

Wouldn’t it be nice if we werw older? Then we wouldn’t have to wait so long. And wouldn’t it be nice to live together. In the kind of world where we belong

The Fault In Our Stars : the sweet story of imperfect

the fault in our stars

“Pain demands to be felt” (John Green)

Kalimat yang memaksa saya untuk setuju terhadap pernyataannya. Seperti rasa sakit yang memaksa juga terhadap rasa. Saya memberikan 4,5 stars from 5 stars untuk film ini. Dan saya mengakui keindahan ceritanya dalam menonton film tersebut. Selama ini, dalam kamus perfilman saya, kisah drama romance yang memegang rating teratas adalah The Perks of Being a Wallflower, dilanjutkan A Walk To Remember. Namun, setelah menonton film ini, peringkat teratas dalam kamus saya berubah menjadi film ini.

Ketika kita melihat poster film ini, kita pasti menebak “Ah, film tentang orang yang sakit”. Well, tidak salah. Karena pada posternya, Hazel sebagai tokoh utama film menggunakan bantuan oksigen mini yang selalu ia bawa kemana-pun ia pergi. Dan pastinya kalian akan mulai menebak-nebak bahwa cerita film ini akan berakhir dengan kematian terhadap tokoh utamanya.

Film yang diadaptasi dari novel terlaris karya John Green membuat saya penasaran dengan karya novel John yang lain. Well, lewat film ini saya jadi kenal dengan penulis asing lainnya selain J.K Rowling, Nicholas Sparks, Paulo Coelho, Haruki Murakami, dll. Walaupun saya belum membaca novelnya pada saat menonton film ini, it’s okay, alur cerita yang disajikan oleh sutradaranya, Josh Boone, terkemas secara apik. Tidak muluk-muluk. Tidak berlebihan. Tidak kurang. Sangat pas sekali. Selain karena arahan sutradara, tokoh-tokoh yang memerankan 2 peran penting yaitu Hazel & Augustus sangat cocok sekali untuk Shailene Woodley dan Ansel Elgort. Melalui film ini, saya menyukai 2 aktor tersebut dan menunggu film mereka selanjutnya.

Kenapa saya mengatakan bahwa cerita yang disajikan oleh Josh Boone begitu pas? Saya yakin bahwa ketika saya nantinya membaca novelnya pasti akan merasa hal yang sama ketika menonton filmnya. Karena tidak mudah seorang sutradara mengadaptasi sebuah film dari karya buku yang laris. Dari yang tebalnya berhalaman-halaman harus disampaikan ke dalam layar dalam waktu kurang dari 2 jam. Ketika suatu film yang merupakan adaptasi dari buku kemudian sukses untuk ditampilkan di layar, hal tersebut sungguh “Wow!”. Bisa dibayangkan bagaimana isi dari novelnya jika filmnya saja begitu “memikat”.

Kisah cinta yang diramu Josh Boone bukanlah kisah cinta yang perlu “dikasihani” melihat tokoh pemeran utamanya mengidap penyakit kanker kelenjar tiroid. Penyakit tersebut telah membuat Hazel harus selalu menggunakan oksigen mini kemanapun ia pergi akibat dari komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakitnya terhadap paru-parunya. Bertemu dengan Ausgustus di sebuah perkumpulan orang-orang yang memiliki kondisi sama dengan Hazel, tetapi berbeda-beda kasus, membawa petualangan Hazel menjadi seru dan berwarna. Ausgustus yang dinyatakan sudah bersih dari kankernya merupakan tipikal cowok tidak pelu berpikir terlalu lama bila ingin melakukan sesuatu, hangat, periang dan  menginginkan banyak orang bisa mengenalnya ketika dia nantinya mati. Hal yang membuat saya sedikit kaget melihat ketampanan Ausgustus bahwa kakinya tidaklah sempurna. Pengaruh dari kanker yang dideritanya dan untuk menghilangkan kanker 85% harus dibuat pilihan terhadap kakinya.

Kedekatan antara Hazel dan Ausgustus berlanjut hingga mereka pergi ke Amsterdam untuk mencari jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaan kepada Van Houten. Hingga mereka mengetahui kenyataan bahwa waktu mereka untuk bersama-sama tidak akan berlangsung lama. Sepulang dari Amsterdam inilah saya mulai merasakan kesedihan. Bukan karena salah satu dari tokohnya akan mati. Tetapi kesedihan bahwa saya yang tidak mengidap penyakit apapun kenapa tidak bisa memiliki pemikiran tentang hidup seperti mereka.

edit-1

You don’t get to choose if you get hurt in this world, but you do have some say in who hurts you.”  

– John Green –

Apa yang dikatakan Hazel kepada Ausgustus sangat tepat. Di dunia ini kita tidak memerlukan banyak orang untuk mengenang kita jika tidak ada. Cukup orang yang kita cintai dan mencintai kita bisa mengenang kita. Josh Boone meramu cinta antara Hazel dan Ausgustus tidak terlalu “mewek”, tetapi meramunya dalam kisah manis dan sesuai apa yang bisa dikatakan oleh realitas.

Pelengkap dari sebuah film adalah soundtracknya. Dari awal hingga film ini berakhir, saya menikmati musik dan lagu yang mengiringi film tersebut. Apalagi ketika saya tahu bahwa yang mengisi soundtracknya adalah Ed Sheeran. Pantas saja saya tidak asing dengan suaranya yang khas. Mata dan telinga kita sungguh dimanjakan dengan adegan-adegan yang indah dan musik yang cantik sebagai pelengkapnya.

5 cm per second

page1

Sesak. Tak ada airmata.

Dada hanya terasa sesak selesai menonton movie ini. Well, bisa dikatakan bahwa film ini mampu mengaduk aduk perasaan dan emosi saya.

Marah, jengkel, dan yang terutama ‘geregetan’ sekali terhadap Takaki. Ingin rasanya saya nyamperin dan berteriak di mukanya. “Apakah memang jarak yang harus dipersalahkan??”

Sampai saat ini hanya film anime ini -menurut saya- yang bagus. Mulai dari alur ceritanya, soundtracknya, narasinya, kualitas gambarnya, efek animasinya dan yang utama adalah detail penggambaran tempat serta benda2nya. Semuanya terasa nyata padahal film ini hanyalah animasi. Kenyataan tersebut juga terasa pada jalan ceritanya yg tidak dibuat buat sama sekali. Dibuat se-realita mungkin. Hanya 1 hal yg saya sesali, kenapa tidak dari dulu saya menonton animasi ini -_-

Film ini terdiri dari 3 bagian yaitu The Chosen Cherry Blossoms, Cosmonaut dan 5 Centimeters Per SecondSemua bagian tersebut saling terhubung. Seperti judul bagian terakhir yaitu 5 cm/second, secara sekilas kita akan sedikit bingung apa hubungannnya dengan jalan ceritanya. Tetapi bila dicerna secara baik2 bahwa arti yg sebenarnya dalam banget berhubungan dengan jalan ceritanya.

5 cm/second adalah kecepatan bunga sakura saat jatuh antara satu bunga dengan bunga lainnya. Mungkin sekilas kitA akan menganggap bahwa 5 cm adalah jarak yg tidak penting. Tetapi tahukah kalian bahwa jarak 5 cm itu sangatlah penting apalagi 1 cm bila semuanya sudah terlambat.

Takaki dan Akari adalah 2 tokoh sentral dalam film ini. Mereka adalah teman sejak kecil. Waktu dan jarak yg akhirnya memisahkan mereka. Akari harus pindah rumah mengikuti orangtuanya. Dan Takaki pun pada akhirnya juga move mengikuti orangtuanya. Berbagai kendala menghadapi keduanya saat mereka mencoba untuk saling bertemu. Salah satu penghalangnya adalah kereta api, yg sepertinya berperan menjadi tokoh antagonis (jadi kesel sendiri ma kereta yg lewat). Dan bagaimana pada akhirnya, apakah mereka bisa mengalahkan semua rintangan??? Well,,,kalian harus nonton sendiri. 🙂

“I love you even today. Even if we were to exchange mail a thousand times, our hearts would probably not move closer by even one centimeter.”

page

Best of Times : The things we want remember and forget

Tidak ada referensi sebelumnya tentang film ini. Saya pun juga tidak tahu film ini bercerita tentang apa. Karena melihat covernya, sepertinya, lumayan bagus ya mencobalah saya untuk menontonnya.

Film ini keluaran tahun 2009, jadi sudah 3 tahun lalu (saya termasuk telat nonton). Di awal-awal cerita, film ini tidak membuat boring. Mudah dipahami dan tentunya ada unsur komedi yang saya suka. Film ini adalah film produksi Thailand. Jadi bisa ketebak gimana gaya komedi romantis film Thailand. Walaupun sebenarnya saya sedikit terganggu dengan dialeknya. Film ini bercerita tentang Keng yang berprofesi sebagai dokter hewan dan mempunyai sahabat sejak SMA bernama Ohm. Ternyata dulunya mereka menyukai cewek yang sama bernama Fei, tetapi Ohm tidak tau kalo cewek yg disukai Keng adalah ceweknya. Hanya Keng yg tau n itu ga sengaja saat tahunya. Akhirnya dia mengalah ampe dibelain transfer kelas. Beberapa tahun kemudian si Fei udah nikah ma Ohm, but mereka dah cerai. Saat Ohm nyampein hal itu ke Keng, Keng sdikit ga percaya. Coz si Ohm adalh first love bt Fei. Fei akhrnya tau siapa Keng sebenarnya n bagaimana isi hatinya selama ini.

Dalam film ini ada 2 kisah cinta. Yang pertama ttg Keng n Fei. Yang satunya ttg Mr. Jamrus n Mrs. Sompit. Mereka itu adalah murid les Keng di kelas computer. Dan mereka berdua tu saling suka. Di bagian ini yg bikin film ini asyik, karena menceritakan bgaimana kisah asmara org lansia. Asmara tu bukan milik anak muda ato dewasa saja. Bagian yg mulai mencapai klimaks film ini saat Keng mengajak Fei ke luar provinsi mencari Mr. Jamrus n Mrs Sompit yg liburan bersama di tempat tinggal Mr Jamrus. Hal ini dilakukan karena anak dr Mrs Sompit mencari ibunya yg menghilang tiba2. Akhirnya Keng ketemu dgn mereka. Lalu kembali ke Bangkok dan didapatkan bahwa Mr. Jamrus menderita penyakit yg dpt membuatnya kehilangan seluruh ingatannya (coba tbak pnyakt apa itu??). sedangkan Mrs Sompit harus pndah ke USA. Nah lho gmana ksah cinta mereka??

Ada beberapa statement Mr Jamrus dan Keng yang saya rekam ke otak saya. Tidak melupakan adalah sesuatu hal yg tidak mungkin. Yang ada hanya melupakan secara sekejap n melupakan secara perlahan ucapan Mr Jamrus untuk Mrs Sompit. Cepat atau lambat, semua orang pasti akan melupakan. Tetapi kita adalah tipe orang yg sulit melupakan. Satu-satunya perbedaan adalah cinta baruku sekarang pada orang yg sama ungkapan Keng kepada Fei.

Things we want to remember, we forget. Things we want to forget, we remember. It’s funny how people. Want to remember, but forget. Then want to forget, but remember