A Walk To Remember : The First Time I Knew About Nicholas Sparks

a walk to remember

Sekitar antara tahun 2002-2003 ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya menonton film A Walk To Remember (selanjutnya akan saya singkat AWTR). Saya tidak ingat persis dimana dan bagaimana saya bisa menonton film ini. Yang pasti tidak di bioskop. Saat itu di kota tempat saya tinggal tidak ada bioskop. Dan tidak mungkin saya pergi keluar kota dengan usia yang masih ababil (pra-remaja) untuk mendapat ijin ortu hanya sekedar menonton film. Well, saya benar-benar tidak ingat bagaimana perkenalan saya dengan film ini.

Pertama kali saya tahu tentang AWTR adalah sebuah film. Dan baru saya ketahui saat saya menikmati perjalanan filmnya, ternyata AWTR adalah novel karya Nicholas Sparks. Disinilah awal mula saya mulai kenal dengan penulis Nicholas dan mulai menyukai karya-karya selanjutnya. Nicholas adalah penulis yang mempunyai ciri khas, yaitu karya romance-nya. Semua karya novelnya sampai sekarang yang saya ketahui ada sekitar 10, dan kesemuanya bertema romance dengan keunikan masing-masing dan tidak membosankan.

Dengan pengetahuan yang kosong tentang penulis novel AWTR, para pemainnya bahkan bagaimana sinopsis jalan ceritanya, saya hanya mengalir saja dan hanya berniat sekedar menonton saja. Mengisi waktu luang saja saat itu. Tanpa terduga, di bagian akhir jalan cerita film selesai, saya merasa puas sekali. Secara keseluruhan saya sangat menikmati semua yang ada dalam film AWTR. Saya mulai suka Mandy Moore dengan suaranya yang lembut, dan saya menjadi penggemar karya Nicholas Sparks.

Beberapa tahun setelah saya menonton film AWTR, saya membeli novel AWTR dan menamatkannya hanya dalam 2 hari. Novelnya tidak tebal dan besar. Ukuran sedang dengan ketebalan yang cukup sedikit untuk ukuran sebuah novel. Feel yang saya dapatkan setelah menonton filmnya dan membaca novelnya sangat berbeda. Biasanya, bila kita sudah membaca novel yang kemudian kita menonton karya adaptasinya kedalam layar lebar, pasti kita akan lebih memilih novelnya. Karena tidak semua adegan dalam novel tertuang semua ke dalam film. Seperti yang saya rasakan di semua serial Harry Potter. Tetapi, untuk AWTR hal tersebut berbeda. Karena antara novel dan film dibuat setting yang berbeda walaupun inti cerita tetap sama.

Berkisah mengenai Landon Carter, seorang siswa SMA, yang dikenal dengan kenakalannya sebagai seorang remaja. Di usianya yang akan memasuki pendidikan perguruan tinggi, sewajarnyalah bila Landon harus memikirkan bagaimana masa depannya. Dalam film dan novel, Landon adalah anak remaja nakal ‘akut’. Di film digambarkan dengan jelas kenakalannya seperti pulang malam, mabuk, dan berbuat sesuatu yang ekstrim untuk mempermainkan temannya (dalam novel hal ini tidak ada). Landon tinggal di sebuah kota kecil dimana masyarakatnya penganut Kristen yang menjunjung tinggi norma agama.

Jamie Sullivan, tetangga dalam satu area kota yang sama dengan Landon dan juga teman mulai dari sekolah dasar, adalah perempuan yang dikenal dengan ketaatannya terhadap Injil. Di sekolah, Jamie selalu menggunakan sweeter dan membawa Injilnya. Dalam film, Injil tidak menjadi sorotan utama seperti dalam novel. Jamie yang suka menyanggul rambutnya dalam novel, berbeda dalam film. Disinilah yang membuat saya baru sadar bahwa setting waktu dalam novel sekitar tahun 50-an. Dan film mengambil waktu sekitar tahun 80-an. Hal inilah yang membuat penikmat AWTR lebih suka film (setelah membaca resensi banyak orang di dunia maya) daripada novel.

Dunia Landon dan Jamie sungguh berbeda. Landon dan teman-temannya sering mengolok bagaimana penampilan Jamie dan keluarganya di belakangnya. Jamie pun menganggap hal itu tidaklah penting karena Jamie orang yang memang sangat baik. Pada akhirnya Landon harus mengikuti kelas drama yang menjadikannya sebagai pemeran utama pria dalam pementasan drama tersebut. Karena kelas drama inilah, Landon dan Jamie memiliki banyak waktu mengobrol. Landon yang tidak terbiasa dengan kelas drama harus meminta bantuan pada Jamie agar penghafalan naskah menjadi lancar. Jamie yang menerima permintaan tolong Landon mengajukan satu syarat. Jamie meminta Landon untuk tidak jatuh cinta padanya. Well, bisa ketebak bagaimana akhirnya setelah pementasan drama selesai. Yap, Landon termakan sendiri dengan janjinya. Dia jatuh hati pada Jamie. Apa yang dipikirkannya tentang Jamie selama ini adalah salah. Jamie yang dikenal dengan orang yang suci dan penuh dengan ajaran Tuhan, sebenarnya adalah remaja normal pada umumnya. Sifat baiknya adalah nilai tambah pada dirinya.

Jamie yang mengajukan syarat untuk jangan ‘jatuh cinta’ padanya memiliki alasan tersendiri kenapa dia mengucapkannya. Disaat Landon merasa dirinya berubah menjadi orang berbeda dan lebih baik sejak mengenal dekat Jamie harus menerima kenyataan yang pahit mengenai rahasia yang dimiliki Jamie. Berbagai upaya dilakukan Landon untuk Jamie agar perempuan yang dicintainya bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Perjalanan bersama Jamie membuat Landon bisa mengerti apa arti dari sebuah masa depan, harapan dan cinta yang terbentang luas di depannya.

“Love is like the wind. We can’t see it, but we can feel it.”

Secara garis besarnya untuk AWTR, saya lebih suka versi film daripada novelnya. Lebih bisa menikmati dan mendapatkan pesan yang disampaikan. Namun hal tersebut tidak mengurangi kesukaan saya pada karya-karya novel Nicholas lainnya. Lagu-lagu yang menjadi soundtrack filmnya pun sangat recommended. Mandy Moore sebagai pemain utama pemeran Jamie adalah seorang penyanyi. Dan tentu saja, lagu-lagu dalam film AWTR dibawakannya dalam harmonisasi yang pas. Bagian soundtrack yang sangat saya suka adalah ketika Mandy menyanyikan ‘Only Hope’ milik Switchfoot saat pementasan drama dan ketika Landon dan Jamie berdansa di balkon diiringi lagi Someday we’ll know yang dinyanyikan Mandy dengan Jonathan dari lagu asli band New Radicals. AWTR menjadi film romantis kesukaan saya hingga saat ini.

A Lot Like Love : “Don’t ruin it!”

a lot like love“there’s nothing better than a great romance to ruin a perfectly good friendship”

 Saya senang melihat review-review dari film lama. Tak terkecuali film yang satu ini. Film yang tayang perdana pada tahun 2005 (wow!! ketika saya masih SMP). Karena keahlian saya menyelam di dunia Google dan secara tidak terduga tahu tentang film ini, maka tak perlu menunggu waktu lama. Saya langsung mencari film ini dan menontonnya. Inti dari film ‘a lot like love’ ada pada tag kalimat diatas. Kita juga bisa menebak bagaimana ending dari film ini yang secara jelas pasti happy ending. Tetapi yang membuat saya menyukai film ini setelah menontonnya adalah cara pengemasannya, yang menurut saya dikemas dengan sangat sederhana dan alami. Colin Patrick Lynch menulis ceritanya tanpa dibuat-buat.

Oliver dan Emily adalah dua tokoh yang menjadi inti cerita ini. Di awal film, dari penampilan pertama mereka muncul sudah bisa kita nilai bagaimana karakter dari Oliver dan Emily. Pada dasarnya karakter mereka sangat bertolak belakang. But, love didn’t look anything. Pada saat saya menonton, saya sempat bergumam, “kok bisa ya Oliver tertarik dengan cewek seperti itu?” Pertemuan pertama mereka pun tidak bisa dikatakan dengan pertemuan yang manis. Tetapi pertemuan yang crazy banget. Emily tipikal orang urakan, sedangkan Oliver tipikal yang kalem banget. Setelah pertemuan tersebut, ikatan persahabatan diantara mereka terbentuk. Hubungan persahabatan mereka bikin saya ‘geregetan’ tiap kali nonton. Gimana gak, mereka saling menyadari kalo saling suka. Oliver ingin hubungan yang lebih dari sekedar teman, but Emily hanya dengan kalimat “don’t ruin it!” yang ia ucapkan cukup memberi gambaran bagaimana hubungan yang semestinya diantara mereka. Oliver paham dan mengikuti alur permainan agar tidak merusak suasana di antara mereka.

Waktu menjadi pembuktian bagi mereka. Tidak hanya dalam hitungan setahun atau dua tahun saja waktu menyadarkan mereka. Tetapi lebih dari 5 tahun. Dan dengan permainan waktu serta jalan cerita yang dikemas membuat ‘chemistry’ dari film ini hidup dan asyik untuk diikuti. Tak sekedar itu, soundtrack dari film ini pas dan keren banget. Ada 3 lagu yang saya suka dari keseluruhan soundtracknya, ‘Brighter than sunshine‘ by Aqualung, ‘if u leave me now‘ by Chicago dan ‘Look what u’ve done‘ by Jet.

The Fault In Our Stars : the sweet story of imperfect

the fault in our stars

“Pain demands to be felt” (John Green)

Kalimat yang memaksa saya untuk setuju terhadap pernyataannya. Seperti rasa sakit yang memaksa juga terhadap rasa. Saya memberikan 4,5 stars from 5 stars untuk film ini. Dan saya mengakui keindahan ceritanya dalam menonton film tersebut. Selama ini, dalam kamus perfilman saya, kisah drama romance yang memegang rating teratas adalah The Perks of Being a Wallflower, dilanjutkan A Walk To Remember. Namun, setelah menonton film ini, peringkat teratas dalam kamus saya berubah menjadi film ini.

Ketika kita melihat poster film ini, kita pasti menebak “Ah, film tentang orang yang sakit”. Well, tidak salah. Karena pada posternya, Hazel sebagai tokoh utama film menggunakan bantuan oksigen mini yang selalu ia bawa kemana-pun ia pergi. Dan pastinya kalian akan mulai menebak-nebak bahwa cerita film ini akan berakhir dengan kematian terhadap tokoh utamanya.

Film yang diadaptasi dari novel terlaris karya John Green membuat saya penasaran dengan karya novel John yang lain. Well, lewat film ini saya jadi kenal dengan penulis asing lainnya selain J.K Rowling, Nicholas Sparks, Paulo Coelho, Haruki Murakami, dll. Walaupun saya belum membaca novelnya pada saat menonton film ini, it’s okay, alur cerita yang disajikan oleh sutradaranya, Josh Boone, terkemas secara apik. Tidak muluk-muluk. Tidak berlebihan. Tidak kurang. Sangat pas sekali. Selain karena arahan sutradara, tokoh-tokoh yang memerankan 2 peran penting yaitu Hazel & Augustus sangat cocok sekali untuk Shailene Woodley dan Ansel Elgort. Melalui film ini, saya menyukai 2 aktor tersebut dan menunggu film mereka selanjutnya.

Kenapa saya mengatakan bahwa cerita yang disajikan oleh Josh Boone begitu pas? Saya yakin bahwa ketika saya nantinya membaca novelnya pasti akan merasa hal yang sama ketika menonton filmnya. Karena tidak mudah seorang sutradara mengadaptasi sebuah film dari karya buku yang laris. Dari yang tebalnya berhalaman-halaman harus disampaikan ke dalam layar dalam waktu kurang dari 2 jam. Ketika suatu film yang merupakan adaptasi dari buku kemudian sukses untuk ditampilkan di layar, hal tersebut sungguh “Wow!”. Bisa dibayangkan bagaimana isi dari novelnya jika filmnya saja begitu “memikat”.

Kisah cinta yang diramu Josh Boone bukanlah kisah cinta yang perlu “dikasihani” melihat tokoh pemeran utamanya mengidap penyakit kanker kelenjar tiroid. Penyakit tersebut telah membuat Hazel harus selalu menggunakan oksigen mini kemanapun ia pergi akibat dari komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakitnya terhadap paru-parunya. Bertemu dengan Ausgustus di sebuah perkumpulan orang-orang yang memiliki kondisi sama dengan Hazel, tetapi berbeda-beda kasus, membawa petualangan Hazel menjadi seru dan berwarna. Ausgustus yang dinyatakan sudah bersih dari kankernya merupakan tipikal cowok tidak pelu berpikir terlalu lama bila ingin melakukan sesuatu, hangat, periang dan  menginginkan banyak orang bisa mengenalnya ketika dia nantinya mati. Hal yang membuat saya sedikit kaget melihat ketampanan Ausgustus bahwa kakinya tidaklah sempurna. Pengaruh dari kanker yang dideritanya dan untuk menghilangkan kanker 85% harus dibuat pilihan terhadap kakinya.

Kedekatan antara Hazel dan Ausgustus berlanjut hingga mereka pergi ke Amsterdam untuk mencari jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaan kepada Van Houten. Hingga mereka mengetahui kenyataan bahwa waktu mereka untuk bersama-sama tidak akan berlangsung lama. Sepulang dari Amsterdam inilah saya mulai merasakan kesedihan. Bukan karena salah satu dari tokohnya akan mati. Tetapi kesedihan bahwa saya yang tidak mengidap penyakit apapun kenapa tidak bisa memiliki pemikiran tentang hidup seperti mereka.

edit-1

You don’t get to choose if you get hurt in this world, but you do have some say in who hurts you.”  

– John Green –

Apa yang dikatakan Hazel kepada Ausgustus sangat tepat. Di dunia ini kita tidak memerlukan banyak orang untuk mengenang kita jika tidak ada. Cukup orang yang kita cintai dan mencintai kita bisa mengenang kita. Josh Boone meramu cinta antara Hazel dan Ausgustus tidak terlalu “mewek”, tetapi meramunya dalam kisah manis dan sesuai apa yang bisa dikatakan oleh realitas.

Pelengkap dari sebuah film adalah soundtracknya. Dari awal hingga film ini berakhir, saya menikmati musik dan lagu yang mengiringi film tersebut. Apalagi ketika saya tahu bahwa yang mengisi soundtracknya adalah Ed Sheeran. Pantas saja saya tidak asing dengan suaranya yang khas. Mata dan telinga kita sungguh dimanjakan dengan adegan-adegan yang indah dan musik yang cantik sebagai pelengkapnya.